Merawat Cinta Buku di Era Digital: Langkah Nyata Yayasan Tunas Aksara Kupang
- 04 Agt 2026 09:54 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Yayasan Tunas Aksara Kupang terus memperkuat advokasi literasi dengan mendorong anak-anak untuk mengenal, menikmati, dan mencintai buku sejak usia dini di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Upaya tersebut tidak hanya menyasar anak, tetapi juga melibatkan orang tua dan sekolah sebagai lingkungan penting dalam membangun budaya membaca.
Dalam wawancara bersama RRI pada Senin, 3 Agustus 2026, Kepala Yayasan Tunas Aksara Kupang, Marice Mauboy, mengatakan pihaknya memiliki sejumlah layanan untuk mendukung kemampuan membaca dan menulis anak, termasuk penyediaan buku bacaan berjenjang, pendampingan guru, kurikulum literasi, serta program Library in the Box. “Kami fokusnya adalah di literasi untuk anak-anak dan ada lima layanan yang kami lakukan,” ujar Marice.
Marice mengungkapkan kondisi literasi di wilayah Nusa Tenggara Timur saat ini masih menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan perhatian serius dari berbagai elemen masyarakat. Berdasarkan rilis data asesmen Badan Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) NTT tahun 2025, tercatat sebanyak 33,49 persen atau setara 3.187 sekolah dasar masih berada pada zona merah literasi.
Menyikapi urgensi tersebut, yayasan ini menghadirkan serangkaian program intervensi unggulan, mulai dari penyediaan kurikulum literasi, buku bacaan berjenjang, pendampingan guru, hingga pengadaan perpustakaan kotak di ruang kelas. Target utama dari advokasi ini adalah anak-anak usia dini hingga sekolah dasar, khususnya mereka yang berasal dari keluarga prasejahtera dengan keterbatasan akses terhadap bahan bacaan berkualitas.
Marice menjelaskan, tantangan literasi saat ini bukan hanya mengenai kemampuan anak dalam membaca, tetapi juga bagaimana menumbuhkan kebiasaan dan kecintaan terhadap aktivitas membaca. “Ada anak yang sudah bisa membaca tapi masih belum memiliki budaya suka membaca, nah ini juga salah satu tantangan yang sangat besar sekali dihadapi oleh pemerintah maupun LSM seperti kami dan juga oleh orang tua,” katanya.
Menurutnya, perkembangan gawai yang semakin dekat dengan kehidupan anak membuat orang tua perlu mengambil peran lebih aktif dalam mengarahkan pemanfaatan teknologi. Marice menilai gawai sebenarnya dapat menjadi peluang literasi apabila digunakan untuk mengakses aplikasi, video edukasi, maupun bahan bacaan digital yang mampu merangsang anak untuk berpikir dan menumbuhkan rasa ingin tahu.
Meski demikian, buku fisik tetap dinilai penting, terutama dalam membangun interaksi dan kedekatan antara anak dengan orang tua maupun guru melalui kegiatan membaca bersama. “Saya masih menyarankan untuk buku fisik karena ketika memegang buku fisik seperti ini dan anak membaca bersama dengan orang tua itu bangun bonding-nya nilainya tak dapat diukur,” ujarnya.
Yayasan Tunas Aksara juga mendorong sekolah menciptakan ruang kelas yang ramah terhadap aktivitas membaca dengan menyediakan buku sesuai usia dan kemampuan anak, sekaligus memberi kesempatan kepada siswa untuk memilih bacaan yang mereka sukai. “Guru yang mengajarkan anak untuk suka membaca adalah guru yang selalu paparkan cerita anak kepada anak-anak,” kata Marice.
Marice menegaskan, lahirnya generasi yang gemar membaca membutuhkan pembiasaan dan keteladanan dari orang dewasa, terutama orang tua di rumah. “Kalau anak mau cinta buku, pertanyaan saya adalah orang tua sudah terbiasa membaca atau tidak. Kalau orang tua mau anaknya cinta buku, maka orang tuanya juga harus membaca,” ucapnya.
Sebagai wujud komitmen jangka panjang, Marice mengajak seluruh orang tua di NTT untuk mulai berinvestasi dengan menyisihkan sebagian dana demi membelikan minimal satu buku anak setiap bulannya. Langkah sederhana mengumpulkan 12 buku dalam setahun ini diharapkan mampu menjadi jembatan kokoh untuk melahirkan generasi penerus yang memiliki kecintaan mendalam terhadap literasi. (AK)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....