Riset Mendalam Kunci Menulis Puisi Bernuansa Lokalitas

  • 04 Agt 2026 08:55 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Menghadirkan unsur lokalitas dalam penulisan puisi membutuhkan riset yang mendalam serta pemahaman mendasar terhadap simbol-simbol kebudayaan. Penulis dan penyair NTT, E. Nong Yonson, menyebutkan bahwa kepekaan kontekstual serta kecerdasan memilih diksi menjadi kunci utama agar pesan kebudayaan dalam puisi dapat diterima secara luas tanpa memicu perbedaan persepsi.

Dalam Obrolan Kecapi (Ketong Baca Puisi) di Pro 4 RRI Kupang, Nong Yonson mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar yang sering dihadapi penyair pemula saat mengangkat tema lokalitas adalah minimnya riset terhadap objek atau simbol budaya yang digunakan. Tanpa riset yang matang, simbol kedaerahan yang dihadirkan berisiko bersifat dangkal atau hanya dipahami oleh kelompok terbatas.

Nong Yonson mengambil contoh sederhana mengenai filosofi 'rumah' yang memiliki kedalaman makna di berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur. "Seorang penyair harus bisa membedakan antara rumah sebagai tempat tinggal secara fisik dan rumah sebagai tempat pulang secara emosional. Dalam tradisi lokal, rumah hampir selalu berkaitan erat dengan tempat pulang yang melambangkan kenyamanan, penerimaan, dan akar kehidupan," ujarnya saat diwawancarai Sabtu, 1 Agustus 2026.

Ia menambahkan, ketepatan memilih bagian-bagian dari rumah, seperti pintu, jendela, hingga halaman, juga menjadi simbol puitis yang sangat kuat. Pintu yang terbuka menandakan penerimaan yang penuh kerinduan, sementara jendela atau halaman dapat melambangkan ketertutupan maupun dinamika hubungan antarmanusia. Ketelitian dalam memilih diksi seperti ini sangat menentukan kematangan seorang penyair.

Lebih lanjut, Nong Yonson menekankan bahwa penyair harus memahami konteks keberagaman adat istiadat di setiap daerah agar tidak melakukan generalisasi yang keliru. Ia mencontohkan simbol sirih dan pinang dalam budaya Sikka yang melambangkan keabadian dan kesetiaan hubungan, di mana perempuan disimbolkan sebagai pinang yang memiliki harga diri dan laki-laki sebagai sirih yang membawa martabat.

"Setiap daerah memiliki variasi dan tingkatan bahasa daerah yang berbeda. Oleh sebab itu, penyair tidak boleh asal mencantumkan istilah lokal tanpa memahami filosofi di baliknya. Simbol yang dipilih hendaknya bersifat kontekstual sehingga ketika dibaca oleh masyarakat luar daerah pun, makna universalnya tetap bisa ditangkap," katanya.

Dalam hal penggunaan gaya bahasa, ia menyebutkan majas metafora, personifikasi, dan paradoks sebagai tiga bentuk gaya bahasa yang paling sering digunakan untuk memperindah puisi bertema lokalitas. Gaya bahasa tersebut membantu mengkonkritkan benda-benda budaya sehingga terasa lebih hidup dan intuitif bagi para pembaca.

Nong Yonson mengajak para penyair muda di NTT untuk terus mengasah kecerdasan berbahasa dan memperluas pengetahuan budaya melalui riset literatur maupun pengalaman lapangan. Menurutnya, karya puisi yang matang dan didasari riset kuat akan menjadi warisan literasi yang berharga bagi generasi mendatang. (Daten)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....