Gerakan Mama Bambu Perkuat Konservasi dan Ekonomi Desa

  • 02 Agt 2026 14:26 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang— Usaha penyelamatan lingkungan di daratan Timor kini bertumpu pada peran krusial kaum perempuan. Melalui gerakan "Mama Bambu" yang diusung Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL), para perempuan di desa-desa Kabupaten TTU dan TTS dilatih menjadi aktor utama pembibitan bambu sekaligus penggerak ekonomi keluarga. Koordinator YBLL TTU dan TTS, Ikerniaty Sandili, mengungkapkan bahwa rekam jejak keberhasilan program Mama Bambu yang dimulai di Flores sejak 2021 kini direplikasi di Pulau Timor.

"Perempuan adalah penerima manfaat utama sekaligus garda terdepan di desa. Di Timor, mama-mama yang kami dampingi mengelola pembibitan dari pemotongan stek, perawatan di polibag, hingga penanaman. Hasil bibit bambu ini tak hanya untuk konservasi, tetapi juga menjadi sumber pendapatan baru bagi mereka," ucapnya.

Proses pendampingan masyarakat diakui tidak selalu mulus. Di awal program, tidak sedikit warga yang meragukan manfaat menanam bambu dan menganggap pekerjaan pembibitan sebagai hal yang menyita waktu, namun, YBLL secara konsisten memberikan edukasi mengenai pengolahan bambu bernilai tambah.

Selain fungsi konservasi air, bambu diproyeksikan menjadi komoditas ekonomi serbaguna, seperti pengolahan anyaman dan kerajinan yang menggunakan bambu muda usia 2 tahun, bahan Bangunan an konstruksi yang memanfaatkan bambu matang usia 3,5 hingga 4 tahun. Selain itu bambu juga berfungsi sebagai pangan lokal dan pakan melalui pemanfaatan rebung dan dedaunan.

Guna memastikan keberlanjutan gerakan, YBLL juga merangkul generasi muda melalui edukasi sekolah (Bambu Goes to School) hingga pelibatan pemuda desa sebagai "Anak Bambu". Pelibatan anak muda ini merupakan regenerasi yang diharapkan dapat melestarikan dan mengembangkan potensi dari tanaman bambu kedepannya.

"Mengikuti filosofi hidup bambu, bambu tidak bisa hidup sendiri, karena di sebelah sebelah rumpun-rumpun bambu itu banyak tanaman-tanaman tanaman lain. Target besar kami adalah kemandirian desa. Ketika suatu saat yayasan berpindah fokus, masyarakat, khususnya mama-mama dan pemuda, mereka sudah mandiri mengelola lingkungan, hutan, dan ekonomi mereka sendiri tanpa bergantung lagi pada lembaga pendamping," tuturnya. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....