Peran Perempuan NTT Dinilai Penting Hadapi Krisis Iklim

  • 27 Jun 2026 12:45 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Perubahan iklim yang ditandai dengan ketidakpastian musim hujan dan kemarau di Nusa Tenggara Timur (NTT) semakin dirasakan dampaknya oleh masyarakat, terutama perempuan yang memiliki peran besar dalam pengelolaan kebutuhan rumah tangga. Kondisi ini menjadi perhatian Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi NTT dalam mendorong penguatan peran perempuan sebagai bagian penting dari strategi adaptasi dan mitigasi krisis iklim.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PSLB3) DLHK Provinsi NTT, Anindya Widaryati, S.Si., M.Sc., M.Eng, dalam Program Dialog Kupang Menyapa di Pro 1 RRI Kupang, Kamis, 25 Juni 2026 menjelaskan bahwa karakteristik iklim NTT sejak lama memang didominasi musim kemarau yang lebih panjang dibanding musim hujan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir pola tersebut semakin tidak menentu, di mana hujan masih kerap terjadi meski sudah memasuki musim kemarau.

Menurut Anindya, perubahan pola iklim tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain pertumbuhan penduduk yang mendorong alih fungsi lahan, meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang menghasilkan emisi gas, pembakaran lahan, serta timbulan sampah yang terus bertambah namun belum tertangani secara optimal. Kondisi ini turut memperburuk tekanan terhadap lingkungan di wilayah NTT.

Ia menegaskan bahwa dampak perubahan iklim paling banyak dirasakan oleh perempuan. Hal ini karena sekitar 80 persen perempuan memiliki peran penting dalam pengelolaan kebutuhan domestik, seperti penyediaan pangan dan air bersih. Saat terjadi kekeringan, beban kerja perempuan meningkat karena harus mencari air hingga jarak yang jauh serta tetap memenuhi kebutuhan pangan keluarga, terutama di wilayah pedesaan yang bergantung pada pertanian dan perkebunan.

Anindya juga menyoroti peran strategis perempuan dalam sektor kehutanan dan lingkungan. Perempuan, menurutnya, dapat berkontribusi dalam pengelolaan hasil hutan bukan kayu, rehabilitasi lahan kritis, pelestarian mangrove, pengolahan pupuk organik, hingga pengelolaan sampah rumah tangga yang bernilai ekonomi. Selain itu, perempuan juga dapat menjadi agen perubahan dalam penggunaan teknologi ramah lingkungan seperti kompor hemat energi dan energi surya.

Dalam upaya penguatan peran tersebut, DLHK NTT telah melibatkan perempuan dalam berbagai program strategis, seperti penyusunan Rencana Umum Energi Daerah yang inklusif, rencana kontinjensi kebakaran hutan dan lahan, serta pengembangan program perhutanan sosial. Sejumlah kelompok perhutanan sosial di Manggarai Barat, Sikka, dan Timor Tengah Utara bahkan seluruh anggotanya adalah perempuan yang diberdayakan untuk mengelola kawasan hutan secara lestari.

Lebih lanjut, Anindya menekankan pentingnya penguatan basis data pilah gender, peningkatan akses perempuan dalam pengambilan keputusan, serta penguatan kapasitas melalui pelatihan seperti sekolah lapang iklim. Ia menutup dengan menegaskan bahwa keluarga merupakan titik awal penguatan ketahanan iklim, sehingga peran dan kemampuan perempuan perlu terus diperkuat agar mampu meningkatkan kesejahteraan sekaligus menghadapi dampak krisis iklim di NTT.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....