Waspada Greenwashing, Masyarakat Diminta Lebih Kritis
- 19 Jun 2026 19:11 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Isu kelestarian lingkungan kini bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak di tengah ancaman krisis iklim global. Namun, di balik maraknya kampanye ramah lingkungan yang digaungkan oleh berbagai lembaga dan korporasi, publik dituntut untuk lebih kritis dalam membedakan mana gerakan yang tulus (genuine environmentalism) dan mana yang sekadar gaung atau dikenal dengan istilah Greenwashing.
Dalam program Obrolan Akamsi RRI Pro 4 Kupang, Rabu, 17 Juni 2026, Drs. Fransiskus Pache Diaz Alffi, selaku Koordinator Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Biologi SMA Negeri 3 Kupang mengatakan, greenwashing adalah sebuah strategi pemasaran atau pencitraan di mana sebuah organisasi atau produk mengklaim dirinya ramah lingkungan, padahal pada kenyataannya tindakan mereka tidak berdampak signifikan atau justru sebaliknya merusak ekosistem.
"Banyak kampanye lingkungan saat ini yang sifatnya permukaan saja. Mengaku menggunakan kemasan ramah lingkungan, tetapi proses produksinya tetap menghasilkan emisi karbon yang tinggi. Ini yang harus kita waspadai sebagai masyarakat ilmiah dan konsumen yang cerdas," ujarnya.
Sebagai seorang pendidik di bidang Biologi, ia menekankan pentingnya melihat rantai pasok dan dampak ekologis secara utuh, bukan sekadar melihat jargon "Hijau" atau "Eco-friendly" yang tertera pada label kemasan. Menurutnya, benteng pertahanan terbaik untuk melawan fenomena greenwashing ini adalah edukasi sejak dini.
Beberapa langkah konkret yang dapat diimplementasikan untuk membangun kepedulian lingkungan yang asli meliputi, edukasi kritis biologi, seperti mengajarkan siswa untuk menganalisis siklus hidup produk (life-cycle assessment) sehingga mereka tahu dampak nyata limbah terhadap keanekaragaman hayati. Selain itu adanya aksi nyata skala kecil, dengan menggalakkan pembatasan plastik sekali pakai di lingkungan sekolah dan pengelolaan sampah organik menjadi kompos.
Penanaman pohon berkelanjutan sebaiknya bukan hanya sekadar seremonial menanam lalu ditinggalkan, tetapi memastikan perawatan pohon tersebut hingga tumbuh besar. Ia mengajak seluruh masyarakat NTT, khususnya Kota Kupang, untuk tidak mudah terkecoh dengan simbol-simbol hijau dari sebuah produk.
Ia menekankan bahwa kepedulian lingkungan yang sesungguhnya dimulai dari perubahan perilaku sehari-hari, seperti menghemat energi, mengurangi produksi sampah, dan berani mempertanyakan klaim-klaim lingkungan dari produk yang kita konsumsi.
"Teknologi dan kampanye secanggih apa pun tidak akan bisa menyelamatkan bumi jika ego manusia untuk terus mengeksploitasi alam tanpa tanggung jawab tidak dihentikan. Mari kita mulai dari hal kecil, dari diri sendiri, dan lakukan secara konsisten," katanya, mengakhiri. (JR)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....