Air Bersih dan Hortikultura Dorong Ketahanan Pangan Berkelanjutan di Naoni

  • 12 Jun 2026 16:14 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Upaya mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan di tengah keterbatasan lahan dan tantangan musim kemarau di Kota Kupang terus dilakukan melalui penyediaan akses air bersih dan pengembangan pertanian hortikultura oleh Yayasan Jaringan Peduli Masyarakat. Program yang dijalankan di Kelurahan Naoni menunjukkan bahwa ketersediaan air tidak hanya mendukung kebutuhan rumah tangga, tetapi juga mampu meningkatkan produktivitas pertanian serta kesejahteraan masyarakat.

Sebelum program tersebut hadir, warga di RT 19 RW 9 Kelurahan Naoni menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih, terutama saat musim kemarau. Sebagian warga harus membeli air tangki dengan biaya cukup besar, sementara lainnya terpaksa menempuh jarak tertentu untuk mengambil air demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi itu berdampak pada terbatasnya aktivitas pertanian karena lahan yang tersedia tidak dapat dimanfaatkan secara optimal sepanjang tahun. Ketua Kelompok Tani sekaligus Ketua Komite Air, Dominggus Anin, dalam Dialog Kupang Menyapa Pro 1 RRI Kupang, Sabtu 6 Juni 2026 mengatakan, bahwa ketersediaan air menjadi faktor utama yang selama ini menghambat pengembangan pertanian di wilayahnya.

Menurutnya, kelompok tani yang semula beranggotakan 16 orang kini berkembang menjadi 30 anggota setelah adanya program penyediaan air bersih dan ketahanan pangan yang didukung Yayasan Jaringan Peduli Masyarakat (JPM) dan PLN Peduli. Dominggus menjelaskan, sekitar 75 persen anggota kelompok kini fokus mengembangkan usaha hortikultura.

Kehadiran jaringan air bersih hingga ke rumah-rumah warga dan lahan pertanian membuat masyarakat lebih bersemangat mengelola pekarangan maupun kebun. Ia mengaku senang melihat perubahan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, di mana lahan yang sebelumnya gersang kini mulai hijau dan produktif.

Menurutnya, manfaat program tidak hanya dirasakan pada sektor pertanian, tetapi juga pada pengeluaran rumah tangga. Dengan sistem distribusi air yang menggunakan meteran, warga hanya membayar sesuai pemakaian. Biaya yang sebelumnya mencapai sekitar Rp100.000 untuk satu tangki air kini dapat ditekan menjadi sekitar Rp25.000 hingga Rp30.000.

Penghematan tersebut memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengalokasikan dana bagi kebutuhan lainnya, termasuk pengembangan usaha tani. Dominggus juga mengungkapkan bahwa sebelum program berjalan, masyarakat yang sebagian besar berprofesi sebagai petani masih harus membeli sayuran dari pedagang yang datang ke wilayah mereka.

Kini, sejumlah anggota kelompok telah mampu menghasilkan sayuran sendiri, bahkan ada yang sudah melakukan panen berulang. Hasil pertanian tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga, tetapi juga dijual dan dibagikan kepada warga lainnya.

Meski berbagai manfaat telah dirasakan, Dominggus mengakui masih terdapat tantangan berupa keterbatasan alat dan sarana pertanian. Karena itu, ia berharap adanya dukungan lanjutan dari pemerintah dan berbagai pihak agar produktivitas kelompok tani dapat terus meningkat.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat menjaga fasilitas air bersih yang telah dibangun agar program ketahanan pangan berbasis air bersih dan hortikultura dapat terus berkelanjutan serta memberikan manfaat bagi generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....