Strategi UMKM Kuliner Kupang Bertahan Hadapi Lonjakan Harga Bahan Pokok

  • 19 Mei 2026 10:56 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Kupang mulai merasakan tekanan berat akibat lonjakan harga bahan pokok dan terbatasnya pasokan sejumlah kebutuhan produksi. Kenaikan harga gas, bahan baku makanan, hingga kemasan plastik membuat pelaku usaha harus memutar strategi agar usaha tetap berjalan di tengah melemahnya daya beli masyarakat.

Hal itu disampaikan Owner Dapoer Paklik, Nia Rosniawati Dewi, dalam Dialog Beranda Asta Cita di Pro 1 RRI Kupang, Rabu, 13 Mei 2026. Ia mengatakan usaha kuliner yang dirintis sejak 2023 itu kini menghadapi tantangan cukup berat akibat kenaikan harga berbagai kebutuhan produksi yang mencapai 30 hingga 40 persen.

Menurut Nia, kenaikan paling terasa terjadi pada bahan kemasan plastik dan gas elpiji 12 kilogram. Ia mengaku harga gas kini semakin mahal sekaligus sulit didapatkan. Bahkan untuk memperoleh gas, dirinya harus mencari dari satu kios ke kios lain hingga larut malam. Selain itu, bahan baku utama seperti tepung ketan untuk pembuatan mochi juga mengalami kenaikan hingga Rp50 ribu per karton.

Dapoer Paklik sendiri awalnya menjual aneka jajanan seperti risol mayo, tahu bakso, dan cireng. Namun belakangan, produk mochi justru menjadi menu andalan yang paling diminati pelanggan. Meski demikian, kondisi ekonomi saat ini membuat penjualan menurun cukup drastis. Jika sebelumnya penjualan mochi bisa mencapai lima boks per hari atau sekitar 150 potong, kini hanya berkisar dua boks per hari.

Nia mengaku hingga saat ini pihaknya masih memilih bertahan tanpa menaikkan harga jual produk. Strategi yang dilakukan adalah tetap menjaga kualitas dan pelayanan kepada pelanggan meski keuntungan yang diperoleh semakin tipis. Ia khawatir kenaikan harga justru membuat konsumen semakin berkurang di tengah kondisi daya beli masyarakat yang melemah.

Untuk menjaga kestabilan usaha, Dapoer Paklik kini mengubah pola belanja bahan baku. Jika sebelumnya stok dibeli untuk kebutuhan satu minggu, kini pembelian dilakukan setiap dua hingga tiga hari guna menjaga arus kas usaha. Selain itu, promosi melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok juga semakin digencarkan agar penjualan tidak hanya bergantung pada pembeli yang datang langsung ke lapak.

Nia berharap, pemerintah dapat menjaga kestabilan rantai pasok dan distribusi bahan pokok ke Kota Kupang agar pelaku UMKM lebih mudah memperoleh bahan baku usaha. Ia juga mengajak sesama pelaku UMKM untuk tetap semangat dan cepat beradaptasi menghadapi situasi ekonomi yang tidak menentu. Baginya, peluang UMKM di Kota Kupang masih terbuka luas dan menjadi motivasi untuk terus bertahan sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....