Ancaman “El Nino Godzilla” Bayangi Ketahanan Pangan di NTT

  • 14 Apr 2026 04:45 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Nusa Tenggara Timur kembali dihadapkan pada ancaman serius perubahan iklim. Fenomena yang disebut sebagai “El Nino Godzilla” diprediksi akan memicu kekeringan ekstrem dan berdampak langsung pada ketahanan pangan masyarakat di wilayah ini.

Prof. Dr. Jonatan Ebet Koehuan, S.T.P., M.P, Guru Besar Ilmu Teknik Sumber Daya Alam dan Lingkungan Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang dalam Wawancara Kupang Pagi Ini di Pro 1 RRI Kupang, Senin, 13 April 2026 menjelaskan bahwa fenomena tersebut terjadi akibat pemanasan suhu permukaan laut yang signifikan. Dampaknya, curah hujan menurun drastis dan memperpanjang musim kering di berbagai wilayah, khususnya di bagian selatan NTT.

Prof Jonatan mengatakan, secara geografis, NTT memang tergolong daerah semi-kering. Kondisi tanah kars yang mendominasi membuat ketersediaan air tanah sulit diprediksi, sehingga masyarakat semakin rentan saat menghadapi perubahan iklim ekstrem.

Sektor pertanian menjadi yang paling terdampak, tanaman pangan utama seperti padi dan jagung diperkirakan mengalami penurunan produktivitas cukup tajam akibat minimnya curah hujan. Hal ini tentu berpotensi mengganggu stabilitas pangan dan ekonomi masyarakat lokal.

“Kita butuh intervensi yang tepat untuk menekan dampak negatif terhadap produktivitas air,” ujar Prof. Jonathan. Ia menekankan pentingnya efisiensi penggunaan air oleh para petani agar tanaman tetap dapat tumbuh di tengah keterbatasan.

Selain itu, pemerintah didorong untuk memperkuat infrastruktur distribusi air, terutama dari waduk ke lahan pertanian. Pengelolaan tinggi genangan air di sawah juga perlu dilakukan secara adil, mulai dari wilayah hulu hingga hilir.

Tak hanya solusi teknis, pendekatan berbasis lingkungan juga menjadi kunci. Prof. Jonathan menilai bahwa penerapan sistem agroforestri dapat menjadi langkah strategis untuk menjaga keseimbangan alam.

“Alam yang terjaga bisa menjadi penyangga saat terjadi guncangan iklim,” ujarnya. Prof Jonatan mengingatkan, menghadapi ancaman ini, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi sangat penting. Penguatan kearifan lokal juga dinilai mampu menjadi solusi berkelanjutan dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus keberlangsungan hidup masyarakat di Nusa Tenggara Timur. (DB)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....