Mutiara Pagi: Kedewasaan Iman
- 08 Apr 2026 09:59 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Kedewasaan iman menjadi tujuan utama dalam kehidupan orang percaya, namun realitas menunjukkan masih banyak yang hidup dalam iman yang belum matang. Iman yang “kanak-kanak” kerap ditandai dengan sikap mudah goyah, berpusat pada diri sendiri, serta belum mampu menghidupi kasih yang sejati, terutama saat menghadapi penderitaan. Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara pengakuan iman dengan praktik hidup sehari-hari.
Dalam konteks tersebut, penderitaan Kristus di salib dipahami sebagai puncak penyataan kasih Allah yang sempurna. Salib bukan sekadar simbol penderitaan, tetapi menjadi dasar penting dalam pembentukan iman yang dewasa. Melalui penghayatan yang benar terhadap makna salib, orang percaya diajak untuk bertumbuh menuju kedewasaan iman yang sejati.
Penyuluh Agama Kristen pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTT, Apriliatus Laiskodat, S.Th., dalam Program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Kupang Selasa, 31 Maret 2026 menjelaskan bahwa kedewasaan iman pertama-tama ditandai dengan perubahan cara hidup. Mengacu pada 1 Korintus 13:11, ia menegaskan bahwa seseorang yang bertumbuh dalam iman akan meninggalkan sifat kekanak-kanakan, baik dalam berkata, berpikir, maupun bertindak. Perubahan ini mencerminkan kehidupan yang tidak lagi didorong oleh ego, melainkan oleh kebenaran dan kasih.
Ia menambahkan, kedewasaan iman bukan sekadar pengetahuan rohani, tetapi transformasi hidup yang nyata. Hal ini terlihat dari kesediaan seseorang untuk hidup dalam ketaatan dan pengorbanan. Pembaruan budi dan pertumbuhan menuju keserupaan dengan Kristus menjadi indikator penting bahwa iman seseorang terus berkembang ke arah yang lebih dewasa.
Lebih lanjut, kedewasaan iman juga membawa orang percaya kepada pengenalan yang semakin jelas dan mendalam akan Allah. Berdasarkan 1 Korintus 13:12, dijelaskan bahwa pertumbuhan iman merupakan proses menuju relasi yang utuh dengan Allah. Seiring dengan pertumbuhan tersebut, seseorang semakin dimampukan untuk memahami dan melakukan kehendak-Nya dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, kedewasaan iman berpuncak pada kasih yang sempurna. Dalam 1 Korintus 13:13 ditegaskan bahwa iman, pengharapan, dan kasih tetap ada, namun kasih adalah yang terbesar. Kasih yang dewasa ditandai dengan kemampuan untuk tetap setia dalam penderitaan, mengampuni, serta rela berkorban bagi sesama. Kasih seperti inilah yang menjadi bukti nyata dari kedewasaan iman dalam kehidupan orang percaya.
Apriliatus Laiskodat menekankan bahwa kedewasaan iman merupakan proses yang tidak instan, melainkan perjalanan rohani yang dibentuk melalui pengenalan akan kasih Kristus, khususnya melalui penderitaan-Nya di salib. Oleh karena itu, setiap orang percaya dipanggil untuk tidak hanya memahami makna salib secara konseptual, tetapi juga menghidupinya dalam keseharian, sehingga iman yang dewasa dapat tercermin melalui keteguhan, pengharapan, dan kasih yang nyata dalam tindakan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....