Urutan Bahasa Asing Penyumbang Kosakata Terbanyak di KBBI

  • 28 Mar 2026 13:28 WIB
  •  Kupang
Poin Utama
  • Budaya 10 Bahasa Asing Penyumbang Kosakata Terbanyak di KBBI Bahasa Arab paling banyak menyumbang kosakata KBBI, sementara pengaruh bahasa lain telah berasimilasi, menunjukkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa terbuka.
  • menegaskan bahasa asing yang masuk telah melaluiPerwakilan Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur menjelaskan proses panjang seperti verifikasi dan validasi sebelum akhirnya diakui sebagai bagian dari kosakata bahasa Indonesia.
  • Pangkul Ferdianus mengungkapkan bahasa daerah menjadi fondasi penting dalam memperkaya kosakata bahasa Indonesia, bahkan ribuan lema dari NTT telah tercatat dalam KBBI.

RRI.CO.ID, Kupang - Bahasa Indonesia dikenal sebagai bahasa yang dinamis dan terbuka terhadap pengaruh eksternal, yang tercermin jelas dalam kekayaan kosakatanya di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Sebagai hasil dari interaksi sejarah, perdagangan, dan perkembangan ilmu pengetahuan, ribuan lema dalam KBBI merupakan hasil serapan dari berbagai bahasa di dunia.

Perkembangan bahasa di tengah masyarakat terus mengalami dinamika, termasuk masuknya kosakata dari bahasa asing ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Melansir dari laman GoodStats yang diambil dari sumber Aku Bahasa, data terbaru mengenai Kamus Besar Bahasa Indonesia menunjukkan bahwa bahasa asing memiliki peran besar dalam memperkaya kosakata bahasa Indonesia. Hingga Desember 2025, terdapat sepuluh bahasa utama yang menjadi penyumbang terbanyak dalam perbendaharaan kata yang tercatat.

Bahasa Arab menempati posisi pertama dengan kontribusi mencapai 1.037 kosakata. Dominasi ini tidak lepas dari pengaruh sejarah, terutama melalui penyebaran agama dan budaya yang telah berlangsung sejak lama di Nusantara.

Di posisi kedua terdapat bahasa Latin dengan 455 kosakata, diikuti bahasa Inggris sebanyak 374 kosakata. Hal ini menunjukkan bahwa selain faktor sejarah, perkembangan ilmu pengetahuan dan globalisasi juga memengaruhi masuknya istilah asing ke dalam bahasa Indonesia.

Selanjutnya, bahasa Sanskerta menyumbang 272 kosakata, disusul bahasa Jepang (223), Prancis (194), dan Belanda (181). Bahasa Belanda meskipun pernah memiliki pengaruh besar pada masa kolonial, kini kontribusinya dalam data KBBI relatif lebih kecil karena banyak kata sudah sepenuhnya terserap dan dianggap sebagai bagian dari bahasa Indonesia.

Sementara itu, bahasa China, Italia dan Jerman masing-masing menyumbang 174, 90, dan 34 kosakata. Data ini menegaskan bahwa bahasa Indonesia terus berkembang secara dinamis melalui interaksi lintas budaya, sekaligus mencerminkan sejarah panjang hubungan Indonesia dengan berbagai bangsa di dunia.

Perwakilan Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur, Pangkul Ferdianus dalam dialog bersama RRI, menjelaskan bahwa KBBI tidak semata-mata “memasukkan” kata secara sembarangan, melainkan menangkap fenomena bahasa yang berkembang di masyarakat. Ia menegaskan bahasa asing yang masuk telah melalui proses panjang seperti verifikasi dan validasi sebelum akhirnya diakui sebagai bagian dari kosakata bahasa Indonesia.

“Kamus Besar Bahasa Indonesia itu menangkap fenomena bahasa yang terjadi di masyarakat, jadi semua kata yang masuk sudah melalui tahapan verifikasi dan digunakan secara luas oleh penutur,” ujar Pangkul dalam siaran bersama RRI Pro 2 Kupang Senin, 2 Februari 2026 lalu. Ia juga menambahkan kosakata yang belum memiliki padanan dalam bahasa Indonesia menjadi salah satu pertimbangan utama.

Meski demikian, Pangkul menepis anggapan bahwa bahasa daerah terpinggirkan dalam KBBI. Ia menyebutkan bahwa justru bahasa daerah menjadi fondasi penting dalam memperkaya kosakata bahasa Indonesia, bahkan ribuan lema dari NTT telah tercatat dalam KBBI.

Terkait fenomena masuknya istilah asing dan bahasa gaul ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pihak Balai Bahasa menilai hal tersebut sebagai upaya menangkap dinamika masyarakat. Namun, masyarakat sering kali tidak menyadari bahwa bahasa daerah juga memiliki kontribusi besar dalam memperkaya kosakata nasional.

Pangkul menambahkan bahwa NTT telah menyumbangkan lebih dari 1.200 kosakata daerah ke dalam KBBI, mulai dari bahasa Rote, Kambera, hingga Manggarai. "Kosakata yang masuk ke KBBI adalah yang benar-benar belum ada konsepnya dalam bahasa Indonesia, sehingga ini memperkuat struktur bahasa kita," tegasnya.

Kenyataan tersebut menjadi cermin bahwa bahasa kita tidak pernah berhenti bertransformasi. Dengan karakteristiknya yang inklusif, bahasa Indonesia terus menyerap berbagai kosakata mancanegara, yang pada akhirnya bukan hanya memperkaya perbendaharaan kata, tetapi juga mematangkan identitas bahasa itu sendiri dalam pergaulan dunia. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....