Program PAUD Peduli Wasting Perkuat Deteksi Dini Gizi Buruk Anak di Kupang
- 17 Mar 2026 12:25 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang- Program PAUD Peduli Wasting yang didukung oleh UNICEF bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia mulai menunjukkan dampak positif dalam upaya meningkatkan kesehatan dan gizi anak usia dini di Kota Kupang. Program yang diperkenalkan pada tahun 2022 ini merupakan bagian dari inisiatif layanan Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD-HI).
Melalui pendekatan ini, guru PAUD dilatih untuk melakukan deteksi dini dan rujukan anak yang berisiko mengalami wasting atau gizi buruk. Selain itu, sekolah juga menyelenggarakan sesi pengasuhan bagi orang tua untuk meningkatkan pemahaman tentang kesehatan dan gizi anak.
Tidak hanya fokus pada deteksi dini, program ini juga mendorong kebiasaan hidup sehat melalui kegiatan kebun sekolah. Anak-anak, guru, dan orang tua bersama-sama menanam berbagai bahan pangan, kemudian memanfaatkan hasil panen untuk kegiatan demonstrasi memasak.
Pendekatan “dari kebun ke meja makan” ini membantu meningkatkan keterampilan gizi praktis serta mendorong keluarga untuk menyediakan makanan yang lebih beragam dan bergizi di rumah. Saat ini, lebih dari 200 lembaga PAUD di Kota Kupang telah menerapkan program tersebut dengan dukungan dari seluruh 12 puskesmas yang ada di wilayah kota.
Sejak tahun 2023, cakupan skrining gizi menggunakan metode Lingkar Lengan Atas (LiLA) bagi anak usia 6 hingga 59 bulan meningkat hingga hampir 89 persen. Partisipasi masyarakat dalam layanan Posyandu juga mengalami peningkatan signifikan, dari sekitar 50 persen menjadi lebih dari 90 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa sesi pengasuhan dan edukasi yang diberikan melalui program PAUD Peduli Wasting mampu meningkatkan kesadaran dan keterlibatan orang tua dalam memantau kesehatan anak. Orang tua kini juga semakin percaya diri memanfaatkan fasilitas layanan kesehatan.
Banyak di antara mereka secara sukarela dan rutin membawa anak ke Posyandu atau fasilitas kesehatan lainnya untuk pemantauan pertumbuhan. Melalui deteksi dini di PAUD, ratusan anak yang teridentifikasi mengalami gizi buruk maupun gizi kurang telah mendapatkan tindak lanjut melalui sistem rujukan layanan kesehatan.
Data terbaru dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa wasting masih menjadi tantangan serius di Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 15,9 persen anak di seluruh provinsi NTT mengalami wasting, angka tertinggi di Indonesia, sementara itu, di Kota Kupang sebagai ibu kota provinsi, prevalensinya tercatat sebesar 13,8 persen.
Wasting merupakan kondisi ketika anak mengalami kekurangan gizi akut yang membuat tubuhnya sangat kurus dan lemah. Kondisi ini meningkatkan kerentanan anak terhadap penyakit dan infeksi, bahkan, anak dengan gizi buruk memiliki risiko kematian hingga 12 kali lebih tinggi dibandingkan anak dengan status gizi baik.
Karena itu, deteksi dini dan rujukan kasus wasting menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi tersebut dan menyelamatkan nyawa anak. Alat sederhana berbasis komunitas seperti pita LiLA serta pendekatan skrining melalui lembaga PAUD digunakan untuk mengidentifikasi anak-anak yang berisiko mengalami malnutrisi, termasuk wasting. Dengan cara ini, anak dapat segera dirujuk untuk mendapatkan penanganan sebelum muncul komplikasi yang lebih berat.
Menurut laman UNICEF Indonesia, pendekatan PAUD Peduli Wasting dinilai efektif dalam melengkapi layanan Posyandu yang sudah ada sekaligus menjangkau anak-anak yang sebelumnya mungkin terlewatkan dalam pemantauan gizi. Melalui kolaborasi lintas sektor ini, diharapkan semakin banyak anak di Kota Kupang dapat tumbuh sehat dan berkembang secara optimal. (JR)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....