Doa Bersama FPK NTT, Mohon Pembangunan Monumen Flobamora Dilanjutkan

  • 14 Mar 2026 13:28 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Forum Pembauran Kebangsaan Nusa Tenggara Timur (FPK NTT) menggelar Buka Puasa bersama di lokasi pembangunan Monumen Flobamora Rumah Pancasila (MFRP) di Desa Nitneo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Selasa, 10 Maret 2026. Pada acara berbuka puasa bersama FPK NTT yang menaungi berbagai paguyuban di NTT ini juga digelar doa bersama secara khusus mendoakan agar pembangunan MFRP atau yang sudah dikenal dengan Patung Garuda itu dilanjutkan dipimpin Kiyai Pono Musariyokerto dari Kontak Kerukunan Sosial (K2S) Jawa.

Hadir pada acara buka puasa bersama itu anggota FPK NTT dari berbagai paguyuban etnis seperti Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), Kontak Kerukunan Sosial (K2S) Jawa, Ikatan Keluarga Besar Batak (IKBB) SAROHA, Ikatan Keluarga Ngada (Ikada). Hadir juga Ikatan Keluarga Nagekao (Ikabena), Komunitas Kita Bersaudara (KKBM), Perkumpulan Keluarga Pasundan Mangle (PKPM) dan paguyuban paguyuban lainnya.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua FPK NTT Ir Theo Widodo kepada RRI di Kupang Rabu, 11 Maret 2026. Dia menjelaskan, kegiatan berbuka puasa bersama ini digelar untuk mempererat tali silaturahmi, meningkatkan rasa kebersamaan, dan memperkuat hubungan sosial antar sesama secara khusus FPK NTT dengan sesama anggota yang berpuasa di bulan Ramadan.

"Selain itu, kami berdoa khusus untuk kelanjutan pembangunan Monumen Flobamora Rumah Pancasila (MFRP) ini segera dituntaskan. Apalagi sudah ada komitmen kuat dari Gubernur NTT, Bupati Kupang, dan Wali Kota Kupang untuk melanjutkan pembangunannya," ucap Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) NTT ini di Kupang.

Kiai Pono dalam tausyiahnya menjelaskan, MFRP menjadi lokasi acara berbuka puasa bersama sebagai bagian dari ibadah umat Muslim dibulan suci Ramadhan karena lokasi ini bisa jadi simbol persatuan umat dan seluruh warga. Dan ini merupakan persembahan dari FPK NTT kepada pemerintah untuk dibangun MFRP pada tahun 2017 silam.

"Kami ingin menunjukkan bahwa kami yang sudah mempersembahkan lokasi untuk pembangunan mendukung penuh pemerintah untuk melanjutkan dan menuntaskan pembangunan MFRP ini," kata Aloysius Dando dari Ikatan Keluarga Besar Nagekeo. Mewakili KKSS selanjutnya ibu Nunu Nurdiana menyampaikan terima kasih kepada anggota FPK NTT, khususnya yang non Muslim yang sudah berkenan untuk berbuka puasa bersama dengan mereka.

Dia menyebut, kebersamaan ini menunjukkan FPK NTT tetap kokoh dan rukun mendukung persatuan dan kesatuan Indonesia dari NTT.

"Kami berharap kegiatan seperti ini terus dilakukan untuk membina kerukunan di antara kita sesama anggota FPK. Bukan hanya pada acara berbuka puasa bersama, tetapi ke depan bisa pada acara Paskah Bersama atau Natal Bersama atau lainnya," ujarnya.

Dia juga mendoakan MFPK dilanjutkan pembangunannya. MFRP, bagi dia menjadi lambang NTT sebagai tempat Pancasila lahir.

Sementara, Ketua Ikatan Keluarga Besar Batak (IKBB) SAROHA drg. Manginar Sidabutar mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa kepada anggota FPK yg beragama Muslim. Dia berharap bulan suci Ramadhan ini semakin mempersatukan Anggota FPK.

"Kita boleh berbeda dalam keberagaman, tetapi kita satu dalam Pancasila. Karena itu, MFRP sebagai lambang Pancasila harus dilanjutkan pembangunannya, apalagi NTT merupakan rahim Pancasila," ucap Uztad H. Mu'allim Chaniago dari Ikatan Keluarga Minang (IKM) Saiyo Sakato menutup seluruh rangkaian acara Buka Puasa Bersama.

Pendirian Monumen Pancasila sudah sejak lama. "Teman-teman FPK NTT ingin untuk mendirikan sebuah Monumen tentang Pancasila sebagai jawaban atas situasi bangsa yang saat itu sedang dirongrong oleh aksi radikalisme,” katanya.

Atas keinginan ini, keluarga Theo Widodo menghibahkan tanah seluas 5.000 meter persegi yang lokasinya sangat strategis untuk pembangunan MFPK. "Lokasi ini menjadi bentuk cinta/intensi keluarga juga persembahan terbaik dari FPK NTT yang selama ini berusaha, hidup rukun dan damai di Kupang, tanah Timor, provinsi Nusa Tenggara Timur hanya karena Pancasila," tutur Theo Widodo.

Niat keluarga dan FPK itu disambut baik oleh Gubernur NTT saat itu, Alm. Frans Lebu Raya yang kemudian bersama DPRD NTT menyetujui anggaran lebih dari Rp28 miliar dari Pos APBD I NTT tahun 2018 untuk pembangunan Monumen Pancasila. Konstruksi gedung dengan desain yang ikonik itu dilengkapi beberapa fasilitas pendukung ada ruang edukasi dan literasi, penguatan idiologi, pariwisata, ekonomi dan lain sebagainya.

Fisik bangunan itu kemudian dikerjakan PT Erom dan tidak tuntas sejak 2018 bahkan sempat diselidiki Kejaksaan Tinggi NTT. Saat ini, proses hukum kasus tersebut telah incrah dan ada rencana kelanjutan pembangunan melalui skema pembiayaan alternatif.

Menurut Theo, proyek itu secara filosofis bertujuan menjadi simbol gotong-royong dan memperkuat posisi NTT sebagai rumah toleransi, kerukunan dalam keberagaman. Meski mandek sebelumnua, saat ini bangunan itu sudah ditinjau Gubernur, Wali Kota Kupang dan Bupati Kupang.

Dalam desainnya, Tinggi monumen 40 m dari permukaan tanah yang berada pada ketinggian 101 m diatas permukaan laut sehingga total tinggi puncak monumen 141 m DPL. Monumen itu terletak didekat pantai sehingga terlihat jelas dari kapal kapal yg berlayar diperairan Kupang.

Dari puncak monumen pengunjung bisa menikmati pemandangan di seluruh kawasan pesisir pantai dan pulau pulau sekitar perairan kupang. Meski sempat terhenti selama 8 tahun sejak berakhirnya masa kepemimpinan mendiang Gubernur Frans Lebu Raya dan tidak dilanjutkan Gubernur Viktor Laiskodat, namun pernah ditinjau lagi pada Januari 2026 oleh Gubernur NTT Melki Laka Lena, Walikota Kupang Christian Widodo dan Bupati Kupang Yosep Lede.

Mereka sudah bersepakat menuntaskan proyek ini pada 2026 sebagai destinasi wisata sejarah serta manfaat ekonomi lainnya tanpa mengorbankan APBD,serta mempertimbangkan opsi pendanaan APBN. Tujuannya untuk melanjutkan dan merenovasi monumen agar berfungsi sesuai perencanaan awal.

Peninjuan itu juga untuk memastikan apakah bangunan itu secara fisik bisa dituntaskan atau tidak secara bersama- sama dengan skema pembiyaaan alternatif. Gubernur NTT mengatakan revitalisasi bangunan itu penting dilakukan karena jadi ikon kebanggaan NTT, pusat edukasi nilai Pancasila, dan destinasi wisata sekaligus penggerak ekonomi baru dikawasan perbatasan Kota Kupang dan kabupaten Kupang itu. (rls/ps/at)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....