Wirausaha Hijau, Langkah Strategis Anak Muda NTT Hadapi Perubahan Iklim

  • 05 Mar 2026 04:29 WIB
  •  Kupang

RRI. CO. ID, Kupang- Di tengah tantangan perubahan iklim global, generasi muda Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai melirik model bisnis yang tidak hanya mengejar keuntungan finansial, tetapi juga keberlanjutan lingkungan. Wirausaha hijau kini menjadi solusi strategis untuk menyeimbangkan nilai ekonomi, ekologis, dan sosial budaya di daerah.

Dalam program "Obrolan Akamsi" di RRI Pro 4 Kupang, Selasa, 3 Maret 2026, Shindy Soge, pendiri komunitas Wetan Helero dan Champion Feast Project, membagikan pandangannya mengenai pentingnya mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam model bisnis lokal. Menurut nya, wirausaha hijau adalah usaha yang memprioritaskan keseimbangan antara profit (keuntungan), planet (lingkungan), dan people (masyarakat).

Model bisnis ini mendorong inovasi berkelanjutan untuk menciptakan lapangan kerja baru sekaligus menjawab tantangan perubahan iklim. Ia menjelaskan beberapa langkah nyata dalam menjalankan usaha ramah lingkungan, yaitu standar produksi tinggi, dengan memastikan bahan baku berasal dari pertanian cerdas iklim (Climate Smart Agriculture) yang bebas pestisida kimia, kemudian efisiensi energi atau meminimalisir penggunaan listrik dengan mengutamakan proses manual dan teknologi sederhana yang ramah lingkungan.

Selain itu hal yang harus diperhatikan adalah pengelolaan limbah, yaitu mengupayakan agar sisa produksi sangat minim dan dapat didaur ulang kembali. Ia menambahkan, Flores Timur memiliki kekayaan sumber daya yang luar biasa untuk dikembangkan dalam wirausaha hijau. Konsep wirausaha hijau diantaranya adalah pangan lokal, seperti jagung, sorgum, kacang-kacangan, dan jawawut (milet), bahan kerajinan anyaman daun lontar yang kini telah menjangkau pasar internasional dan berbagai komoditas unggulan yang ada yaitu jambu mente sebagai salah satu penghasil terbesar di NTT.

Melalui Wetan Helero, Shindy telah melibatkan sekitar 40 anak muda dan perempuan dalam rantai produksi. Selain menciptakan lapangan kerja, usaha ini juga meningkatkan pendapatan petani lokal dengan memperpendek jalur distribusi, yang secara otomatis mengurangi jejak karbon.

Shindy juga menekankan bahwa anak muda memiliki kreativitas dan penguasaan teknologi yang tinggi untuk memimpin gerakan ini. Ia berpesan agar generasi muda tidak malu menjadi petani atau mengelola pangan lokal.

"Jangan pernah minder mengelola potensi sumber daya lokal. Ini adalah solusi strategis untuk meningkatkan profit sekaligus menjaga keanekaragaman hayati kita. Bae sonde bae, pangan lokal lebih bae. Produk lokal adalah pilihan terbaik untuk masa depan yang lebih hijau,” tutupnya. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....