Erwin Alexander: Tanam Pohon jadi Warisan Hijau untuk Generasi Mendatang

  • 22 Jul 2026 11:36 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Bagi Direktur PT Filosi Exider Inovasi, Erwin Alexander Gilbert Mauk atau akrab disapa Erwin Alexander menanam pohon bukan sekadar kegiatan penghijauan, melainkan sebuah bentuk investasi masa depan. Investasi yang mungkin tidak sepenuhnya dinikmati oleh mereka yang menanamnya, tetapi manfaatnya akan dirasakan oleh anak cucu di kemudian hari.

Di tengah ancaman perubahan iklim, berkurangnya ruang hijau, dan meningkatnya kerusakan lingkungan, Erwin mengajak masyarakat melihat pohon sebagai simbol kepedulian dan tanggung jawab lintas generasi. Pemikiran itu diwujudkan melalui program Filosi Peduli Lingkungan dengan menginisiasi Gerakan Tanam 1.000 Pohon di empat wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), yakni Kota Kupang, Kefamenanu, Ende, dan Maumere.

Tahap awal gerakan tersebut berlangsung di bantaran Sungai Liliba, Kota Kupang, Senin, 20 Juli 2026. Kegiatan ini melibatkan sekitar 200 peserta yang berasal dari unsur pemerintah, kepolisian, komunitas lingkungan, mahasiswa, media, hingga masyarakat umum.

Menurut Erwin, pohon memiliki nilai yang berbeda dari investasi lainnya karena membutuhkan kesabaran dan komitmen jangka panjang. "Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi, saya percaya ada satu investasi yang sering terlupakan, yaitu menanam pohon. Berbeda dengan investasi pada umumnya yang mengharapkan hasil dalam hitungan bulan atau tahun, pohon mengajarkan kita tentang kesabaran. Kita mengeluarkan tenaga, waktu, dan biaya hari ini, tetapi belum tentu kita yang akan menikmati seluruh manfaatnya. Justru anak-anak dan generasi setelah kitalah yang kelak akan merasakan udara yang lebih bersih, tanah yang lebih terjaga, dan lingkungan yang lebih hijau," ujar Erwin.

Direktur PT Filosi Exider Inovasi, Erwin Alexander Gilbert Mauk.

Ia menjelaskan, filosofi tersebut menjadi dasar lahirnya program Filosi Peduli Lingkungan. Baginya, keberhasilan sebuah perusahaan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kontribusi dan manfaat yang mampu diwariskan kepada masyarakat.

Dalam gerakan ini, Filosi menargetkan penanaman 1.000 pohon. Sebanyak 800 pohon di antaranya merupakan pohon merbau, sementara sisanya terdiri dari berbagai jenis tanaman penghijauan lainnya.

Erwin mengatakan, pemilihan pohon merbau memiliki alasan khusus. Selain dikenal memiliki daya tahan tinggi, merbau juga menjadi simbol keteguhan dan keberlanjutan.

"Merbau adalah pohon yang tumbuh perlahan, namun mampu bertahan sangat lama. Ia menjadi simbol keteguhan, keberlanjutan, dan warisan bagi generasi berikutnya. Nilai-nilai itu sejalan dengan cara kami membangun Filosi: tidak hanya mengejar pertumbuhan hari ini, tetapi menciptakan manfaat yang dapat bertahan dalam jangka panjang," katanya.

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang teknologi dan pendidikan, Filosi juga menekankan bahwa kemajuan tidak boleh berjalan tanpa kepedulian terhadap lingkungan.

"Pendidikan membentuk cara berpikir manusia, teknologi membantu menyelesaikan berbagai persoalan, sementara lingkungan menyediakan ruang kehidupan bagi keduanya. Ketiganya tidak dapat dipisahkan," ujar Erwin.

Ia menegaskan bahwa gerakan penghijauan tidak boleh berhenti pada seremoni penanaman. Menurutnya, tantangan terbesar justru memastikan pohon yang ditanam dapat tumbuh dan berkembang.

Karena itu, Filosi berkomitmen melakukan pemantauan serta penyiraman secara rutin sedikitnya dua kali dalam seminggu selama masa awal pertumbuhan tanaman. "Keberhasilan adalah ketika seribu pohon itu tumbuh besar, menguatkan tanah di bantaran sungai, menghasilkan oksigen, menyerap karbon, memberikan keteduhan, dan tetap memberi manfaat puluhan tahun setelah kita tidak lagi berada di tempat ini," katanya menjelaskan.

Bagi Erwin, perusahaan yang memiliki kepedulian sosial dan lingkungan akan meninggalkan jejak yang lebih bermakna dibandingkan sekadar pencapaian ekonomi. "Saya percaya bahwa teknologi dapat mengubah cara hidup manusia, pendidikan dapat mengubah masa depan manusia, tetapi hanya lingkungan yang lestari yang mampu memastikan kehidupan itu tetap berlangsung. Karena itu, menanam pohon bukan sekadar aktivitas hari ini. Menanam pohon adalah keputusan untuk membangun masa depan," ujar Erwin, mengakhiri. (DW)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....