Manggarai Barat Catat Peningkatan Produksi Padi
- 26 Feb 2026 18:52 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Kabupaten Manggarai Barat mencatat keberhasilan dalam peningkatan produksi padi pada 2025 setelah sempat mengalami penurunan pada 2024 akibat rehabilitasi bendungan di sejumlah wilayah. Perbaikan infrastruktur irigasi serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci bangkitnya produktivitas pertanian di daerah tersebut.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Manggarai Barat, Laurensius Halu, S.ST., menjelaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja sama seluruh komponen, mulai dari pemerintah desa, kecamatan, kabupaten hingga dukungan pemerintah pusat melalui APBN dan APBD. “Ini adalah wujud sistem kolaborasi yang berjalan maksimal dalam rangka meningkatkan ketersediaan produksi beras,” ujarnya dalam wawancara di program Kupang Pagi, RRI Pro 1 Kupang, Rabu, 18 Februari 2026.
Menurut Laurensius, selama tiga tahun terakhir produksi padi di Manggarai Barat menunjukkan tren positif, meski sempat terganggu pada 2024 karena perbaikan bendungan di Lembor dan Komodo. Setelah infrastruktur irigasi kembali optimal pada 2025, seluruh lahan fungsional dimaksimalkan sehingga capaian produksi meningkat signifikan.
Secara keseluruhan, luas lahan baku sawah (LBS) fungsional di Manggarai Barat mencapai 16.892,46 hektare. Kecamatan Lembor menjadi penyumbang terbesar dengan luas 3.085,2 hektare, disusul Lembor Selatan, Boleng, dan Komodo sebagai kantong-kantong produksi utama yang menopang ketersediaan pangan daerah.
Ia menambahkan, peningkatan produksi tidak terlepas dari penerapan intensifikasi pertanian, mulai dari persiapan lahan, penggunaan benih unggul, pengairan, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), hingga penanganan pra dan pascapanen. Dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan) seperti traktor roda dua dan empat, combine harvester, serta mesin pompa air turut mempercepat proses produksi, meski kebutuhan masih cukup besar.
Dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman, pemerintah daerah telah merekrut 11 petugas pengamat OPT yang ditempatkan satu orang per kecamatan pada 2025. Mereka bekerja bersama 120 penyuluh pertanian yang tersebar di kecamatan dan desa.
Kolaborasi ini memungkinkan deteksi dini terhadap persoalan seperti kekurangan air, serangan hama, hingga kelangkaan pupuk sehingga dapat segera ditangani. Untuk menjaga tren positif hingga musim tanam 2026, strategi yang diterapkan antara lain penguatan kelembagaan kelompok tani sebagai garda terdepan, kewajiban penyuluh dan petugas OPT untuk siaga di lapangan, serta respons cepat terhadap laporan kondisi pertanian.
Laurensius berharap dukungan sarana produksi dari pemerintah pusat terus berlanjut agar peningkatan produksi dapat dipertahankan sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Manggarai Barat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....