Program GASING GMIT Overa Fatululat jadi Harapan Baru Penanggulangan Stunting

  • 26 Feb 2026 11:18 WIB
  •  Kupang

RRI. CO. ID, Kupang - Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) melalui Jemaat Overa Fatululat di Klasis Amfoang Selatan melakukan terobosan melalui program GASING (Gereja Bersih Stunting), untuk mengatasi persoalan stunting yang masih menjadi tantangan serius di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di wilayah Amfoang Selatan. Program ini merupakan bentuk kolaborasi nyata antara lembaga keagamaan, pemerintah, dan tenaga kesehatan untuk mencetak generasi emas yang sehat dan berkualitas.

Ketua Majelis Jemaat (KMJ) GMIT Overa Fatululat, Pdt. Gustaf Nenu, M. Th, menjelaskan bahwa gereja tidak boleh hanya fokus pada pelayanan spiritual di dalam gedung, tetapi juga harus peka terhadap persoalan sosial di tengah jemaat, termasuk gizi buruk dan stunting. Salah satu aksi konkret dalam program GASING adalah pembagian telur ayam organik secara gratis kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak di bawah usia dua tahun (baduta).

"Kunci pencegahan stunting adalah ketersediaan gizi berimbang setiap hari. Kami membagikan satu butir telur per hari, yang didistribusikan setiap hari Minggu sebanyak tujuh butir untuk kebutuhan satu minggu," ujarnya dalam Obrolan Akamsi RRI Pro 4 Kupang, Selasa, 24 Februari 2026.

Adapun program ini telah berjalan selama tiga tahun di Dusun Fatululat dan kini telah meluas hingga mencakup seluruh Desa Fatumunas. Tak hanya memberikan bantuan pangan, gereja juga melakukan pemberdayaan ekonomi untuk memastikan program ini berkelanjutan.

Jemaat dilibatkan dalam kelompok peternakan ayam petelur dan ayam kampung unggulan (KUB). Selain menyediakan protein, kegiatan ini juga membuka lapangan pekerjaan bagi perempuan muda di desa untuk mencegah risiko perdagangan orang (human trafficking).

Edukasi mengenai pentingnya 1,000 hari pertama kehidupan (HPK) juga disisipkan melalui suara mimbar, dimana materi stunting selalu disertakan dalam khotbah dan Bulan Keluarga. Selain itu pada kegiatan katekisasi, seperti pembekalan bagi calon pengantin mengenai kesehatan reproduksi dan gizi.

Gereja juga turut berkolaborasi dengan Puskesmas untuk pemantauan data kesehatan anak di Posyandu. Pdt. Gustaf menekankan bahwa tantangan terbesar terkait penanganan stunting bukan hanya soal akses pangan, tetapi juga perubahan pola pikir (mindset) terkait budaya dan kebiasaan lama. Banyak warga yang masih enggan memeriksakan kehamilan ke fasilitas kesehatan atau lebih memilih dukun beranak karena faktor adat.

"Target utama kami adalah perubahan mindset. Dengan kesadaran akan pentingnya gizi dan sanitasi, masyarakat dapat secara mandiri mengupayakan kesehatan keluarganya," tambahnya.

Melalui program GASING, diharapkan desa-desa di Amfoang bisa menjadi proyek percontohan (pilot project) bagi daerah lain di NTT. Pdt. Gustaf berharap kolaborasi "Tiga Batu Tungku", yaitu Gereja, Pemerintah, dan Kesehatan, terus diperkuat untuk menyelesaikan akar masalah kemiskinan dan stunting.

"Generasi emas masa depan harus dipersiapkan dari sekarang. Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang akan kita petik di masa depan," katanya. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....