Komunitas Wetan Helero Bangkitkan Kembali Pangan Lokal Desa
- 12 Feb 2026 12:44 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Di tengah tantangan perubahan iklim dan ketergantungan pada pangan impor, upaya memperkuat ketahanan pangan berbasis potensi lokal menjadi krusial. Dalam acara "Obrolan Akamsi" di RRI Pro 4 Kupang, Selasa, 10 Februari 2026, Shindy Soge, pendiri komunitas Wetan Helero sekaligus Village Champion FEAST Project, membagikan kisahnya dalam menggerakkan kemandirian pangan dari desa.
Komunitas Wetan Helero yang berbasis di Desa Hewa, Kabupaten Flores Timur, telah bergerak sejak tahun 2018. Nama "Wetan" sendiri diambil dari bahasa lokal untuk Jewawut (milet), sebuah pangan lokal unggulan yang kini mulai langka.
| Baca juga: Desa Enoraen Dukung Pengembangan TWA Menipo |
"Kami memulai dengan membudidayakan beragam pangan lokal dan mengembangkan wirausaha hijau. Tujuannya bukan hanya ekonomi, tapi juga menjaga keseimbangan ekologis dan budaya," ujarnya.
Shindy mengungkapkan keprihatinannya terhadap tingginya ketergantungan masyarakat pada pangan impor dan bantuan pemerintah yang terkadang mendevaluasi pengetahuan tradisional Beberapa tantangan utama yang berkaitan dengan ketahanan pangan, diantaranya perubahan iklim, dimana petani sering mengalami gagal tanam karena benih dari luar tidak adaptif dengan cuaca lokal, selain itu adanya stigma generasi muda terhadap profesi petani yang sering dianggap rendah atau "pekerjaan kotor", bahkan Shindy sendiri sempat mendapat cibiran saat memutuskan berhenti menjadi guru setelah 9 tahun untuk fokus ke pertanian.
Ia mengatakan, hilangnya pangan lokal juga berarti hilangnya istilah-istilah dalam bahasa daerah yang terkait dengan proses bertani, misalnya Jewawut, yang merupakan salah satu pangan lokal yang hampir punah, dan tidak lagi dikenali oleh masyarakat saat ini. Secara tradisional, Jawawut digunakan sebagai "benteng pertahanan" di pinggiran kebun untuk melindungi tanaman lain dari hama, selain itu, Jewawut memiliki khasiat medis seperti membantu penyembuhan patah tulang, luka dalam, dan sangat baik untuk ibu hamil serta menyusui.
Melalui FEAST Project dan Wetan Helero, Shindy aktif melakukan berbagai program untuk keberlanjutan pangan lokal. Beberapa kegiatan yang dilakukan, seperti edukasi sekolah yang berkolaborasi dengan OSIS untuk mengenalkan, mengolah, dan menjual produk pangan lokal kepada pelajar agar mereka mengenal jati diri budayanya, pertanian cerdas iklim, dengan mendampingi petani untuk menerapkan praktik pertanian organik yang lebih tahan terhadap perubahan cuaca, dan pemberdayaan perempuan, melalui pelatihan kelompok perempuan dalam mengolah pangan lokal agar memiliki nilai jual tinggi melalui kemasan dan narasi (storytelling) yang menarik.
“Mencintai pangan lokal adalah cara menjaga kedaulatan bangsa. Mari kita mulai dari diri sendiri untuk mengonsumsi apa yang kita tanam, agar kita tidak kehilangan identitas dan jati diri kita," katanya menegaskan. (JR)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....