Tes Kemampuan Akademik Dorong Perbaikan Mutu Pendidikan NTT
- 02 Feb 2026 16:13 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Penerapan Tes Kemampuan Akademik (TKA) oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menjadi cermin baru kualitas pendidikan nasional. Namun, hasil TKA 2025 justru menempatkan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada posisi paling bawah dari 38 provinsi di Indonesia, memicu keprihatinan sekaligus tuntutan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembelajaran di daerah. Hal tersebut dikatakan Praktisi Pendidikan, E. Nong Yonson dalam Wawancara Kupang Pagi Ini, Senin, 2 Februari 2026 di Pro 1 RRI Kupang.
“TKA kembali diberlakukan untuk mengukur kemampuan akademik murni peserta didik setelah beberapa tahun terakhir standar kelulusan sepenuhnya ditentukan oleh sekolah. Kebijakan ini diambil sebagai respons atas fenomena nilai rapor yang relatif tinggi, namun tidak sebanding dengan kompetensi akademik lulusan di lapangan,” katanya.
Nong melanjutkan, data hasil TKA yang dirilis pada akhir Desember 2025 menunjukkan capaian siswa SMA di NTT masih sangat rendah, khususnya pada mata pelajaran wajib. Nilai rata-rata Matematika hanya mencapai 31,73, sementara Bahasa Inggris lebih memprihatinkan dengan skor rata-rata 19,71. Bahkan, di beberapa sekolah ditemukan siswa yang memperoleh nilai nol karena tidak mampu menjawab soal dengan benar.
| Baca juga: UKBI Perkuat Kompetensi Pegiat Literasi NTT |
Kondisi ini menandakan adanya kesenjangan serius antara standar kompetensi nasional dengan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik di NTT. Nong menilai lemahnya hasil TKA tidak semata soal kemampuan siswa, melainkan juga berkaitan erat dengan metode pembelajaran dan pendampingan guru.
Menurutnya, banyak siswa belum mampu mengidentifikasi informasi penting dalam teks bacaan serta kesulitan menerjemahkan soal cerita matematika ke dalam langkah aritmatika yang tepat.
“Istilahnya reading without understanding. Anak bisa membaca, tapi tidak memahami isi dan makna bacaan,” ujarnya.
Selain itu, ketidaksiapan siswa menghadapi model soal baru seperti pilihan ganda kompleks dan pilihan ganda kategorial turut memengaruhi hasil. Selama ini, siswa lebih terbiasa dengan soal pilihan ganda tunggal, sehingga kesulitan ketika dihadapkan pada soal yang menuntut analisis dan berpikir kritis.
Sebagai langkah perbaikan, Nong Yonson menekankan pentingnya pelatihan intensif bagi guru, khususnya dalam penyusunan soal berbasis kerangka penilaian TKA. Menurutnya, pembiasaan terhadap variasi bentuk soal harus mulai diterapkan dalam ulangan harian dan ujian sekolah agar siswa tidak lagi “kaget” saat menghadapi asesmen nasional.
“Guru harus mulai menyusun soal yang sewarna dengan tes masuk perguruan tinggi. Anak-anak NTT itu cerdas, potensinya besar, tapi cara pendampingannya harus berubah,” katanya.
Nong menambahkan, hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA ini harus menjadi momentum evaluasi cepat dan masif, mengingat TKA untuk jenjang SD dan SMP dijadwalkan berlangsung pada Maret dan April mendatang. Sekolah diharapkan memanfaatkan waktu yang tersisa untuk memperkuat pendampingan belajar siswa secara lebih terarah dan sesuai kisi-kisi kementerian.
Transformasi metode pembelajaran dan peningkatan kualitas pendampingan guru dinilai menjadi kunci utama agar mutu pendidikan di NTT dapat bangkit dan sejajar dengan daerah lain di Indonesia. (DB)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....