Inovasi Rumah Ikan, Strategi Nelayan Oesapa Jaga Laut
- 30 Jan 2026 12:05 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang -Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmas) Nelayan Oesapa terus mendorong inovasi fish apartment (rumah ikan, red.) sebagai langkah strategis menjaga keberlanjutan ekosistem laut sekaligus meningkatkan kesejahteraan nelayan lokal di perairan Teluk Kupang.
Program konservasi ini dinilai penting mengingat kondisi ekosistem laut yang mulai mengalami kerusakan. Laut tidak hanya menjadi sumber mata pencaharian utama nelayan, tetapi juga warisan lingkungan yang harus dijaga agar tetap lestari untuk generasi mendatang.
Sekretaris Pokmas Nelayan Oesapa, Muhammad M. Dokeng, yang akrab disapa Dewa, dalam Wawancara Kupang Pagi Ini di Pro 1 RRI Kupang, Kamis, 22 Januari 2026 menjelaskan, pembangunan rumah ikan lahir dari kesadaran nelayan sebagai pihak yang setiap hari memanfaatkan sumber daya laut. Menurutnya, eksploitasi tanpa diimbangi upaya perawatan akan berdampak pada penurunan drastis kekayaan laut Teluk Kupang.
“Kalau kita hanya mengambil tanpa merawat, suatu saat laut ini berkurang. Fish apartment ini bentuk tanggung jawab kami sebagai nelayan,” ujar Dewa.
Fish apartment berfungsi sebagai habitat buatan untuk menggantikan terumbu karang yang rusak akibat perubahan iklim. Struktur berbahan bambu ini menjadi tempat berlindung, memijah, dan membesarkan ikan-ikan kecil, sehingga diharapkan mampu meningkatkan populasi dan keanekaragaman hayati laut secara berkelanjutan.
Latar belakang lain dari program ini adalah menurunnya hasil tangkapan nelayan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut memaksa nelayan melaut hingga ke wilayah Amarasi Timur dan Amfoang dengan biaya operasional yang tinggi. Kehadiran rumah ikan diharapkan mampu memulihkan produktivitas laut di sekitar Teluk Kupang sehingga nelayan tidak perlu melaut terlalu jauh.
Hingga saat ini, menurut Dewa sebanyak 18 unit fish apartment telah ditenggelamkan. Pokmas pun juga menerapkan sistem zonasi, dengan pembatasan area tangkap agar biota laut memiliki waktu tumbuh dan berkembang. Hasilnya mulai terlihat pada tahun 2025, di mana tangkapan nelayan menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Beberapa jenis ikan bernilai ekonomi tinggi seperti kakap merah, kakap putih, kerapu, dan bawal kini kembali ditemukan di sekitar lokasi apartemen ikan,” ujarnya.
Menurut Dewa, tantangan terbesar dalam menjaga laut justru berasal dari perilaku manusia yang masih berpikir jangka pendek. Ia mengajak masyarakat pesisir untuk tidak membuang sampah ke laut serta menolak penggunaan bahan peledak dan potasium yang merusak ekosistem.
“Kita harus pikirkan anak cucu. Kalau laut rusak hari ini, mereka yang akan menanggung dampaknya,” katanya menegaskan.
Pokmas Nelayan Oesapa berharap dukungan pemerintah dan berbagai pihak terus mengalir agar program fish apartment dapat dikembangkan di wilayah perairan lain yang mengalami kerusakan terumbu karang. Upaya konservasi laut melalui mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dinilai menjadi kunci menjaga keberlanjutan sumber daya alam dan masa depan ekonomi masyarakat pesisir. (DB)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....