Pergerakan IHSG Dibayangi Konflik dan Kebijakan Bank Sentral

  • 18 Jun 2025 10:29 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Kondisi geopolitik dan kebijakan suku bunga bank sentral, akan mempengaruhi perdagangan saham hari ini. Namun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan hari ini.

Dalam penutupan perdagangan Selasa kemarin, IHSG naik 0,54 persen disertai dengan net buy asing Rp197 Miliar. Saham yang paling banyak dibeli investor asing adalah ANTM, BBCA, TLKM, AMRT, dan TPIA.

"Peluang IHSG menguat lagi masih terbuka, terutama jika indeks bertahan di atas level support 7.055–7.103. Dalam jangka pendek IHSG masih berada dalam tren naik," kata Tim Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam analisisnya, Rabu (18/6/2025).

Baca Juga:

Perang Iran-Israel Berlanjut, Rupiah Berisiko Makin Melemah

IHSG Menguat di Tengah Tertekannya Bursa Asia

Menurut Tim Mirae, sentimen pasar global dalam beberapa hari terakhir ditandai oleh kehati-hatian "Volatilitas meningkat didorong oleh ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung serta ketidakpastian arah kebijakan bank sentral," kata Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, Rabu (18/6/2025).

Menurutnya, meskipun optimisme terhadap ekonomi AS semakin tumbuh, risiko tetap tinggi. Terutama di pasar negara berkembang dan sektor-sektor yang sensitif terhadap gangguan perdagangan global.

Pada Selasa kemarin, indeks saham di AS ditutup turun menandakan ketidakpastian yang meningkat. Dow Jones turun 0,71 persen, Nasdaq turun 0,9 persen, dan S&P 500 turun 0,8 persen.

Pasar Eropa juga sebagian besar melemah. Pelemahan mencerminkan kekhawatiran atas konflik Israel-Iran dan perang Rusia–Ukraina yang masih berlanjut

Sementara itu, harga komoditas naik sebaga respons atas risiko-risiko tersebut. Harga minyak mentah Brent crude naik menjadi USD74,5 per barel dan harga minyak WTI naik USD72,9 per barel.

Harga emas masih stabil di kisaran USD3.300–USD3.400 per troy ounce. Harga emas diperkirakan akan kembali melambung jika konflik geopolitik memburuk dan ketidakpastian pasar keuangan global makin tinggi.

"Investor kini menunggu sinyal kebijakan dari Bank Indonesia yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di 5,5 persen. Bank Sentral AS, Federal Reserve juga diperkirakan akan menahan suku bunga di kisaran 4,25 persen–4,50 persen," ujar Rully menutup analisisnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....