Perang Iran-Israel Berlanjut, Rupiah Berisiko Makin Melemah

  • 18 Jun 2025 09:52 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan berlanjut, akibat perang Iran dengan Israel. Rupiah sudah turun 0,15 persen atau 24 poin menjadi Rp16.289 per dolar AS, pada penutupan perdagangan Selasa kemarin.

Pelemahan rupiah disebabkan indeks dolar yang terus menguat. "Kita lihat pagi ini indeks dolar AS bergerak lebih tinggi dibandingkan kemarin, 98,77 versus 98,20," kata Analis Pasar Uang, Ariston Tjendra, Rabu (18/6/2025).

Baca juga: Rupiah Turun 24 Poin karena Sentimen Negatif Pasar

IHSG Menguat di Tengah Tertekannya Bursa Asia

Ia menilai, penguatan dolar AS adalah efek dari konflik perang Iran-Israel yang belum berhenti. Sementara, Amerika Serikat mulai mengintervensi untuk membantu Israel.

"Selain itu, pasar juga menantikan hasil rapat moneter the Fed. Bank Sentral AS ini kemungkinan nadanya bisa lebih dovish atau mendukung pelonggaran moneter ke depannya," ucap Ariston.

Ekonomi AS, tambahnya, mengalami tekanan belakangan ini, sehingga wajar pelaku pasar berekspektasi akan pelonggaran moneter. Jika pelonggaran moneter ini terjadi, dampaknya mata uang AS akan tertekan.

"Jadi ada kemungkinan juga dolar AS tidak akan bergerak terlalu kuat hari ini terhadap rupiah. Karena ada sentimen the Fed yang kuat yang bisa menahan penguatan dolar AS ini," ujar Ariston.

Bank Indonesia juga akan mengumumkan kebijakan suku bunganya hari ini. Pelaku pasar menunggu bagaimana kebijakan suku bunga BI di tengah ketidakpastian keuangan global yang makin tinggi.

"Hari ini potensi pelemahan rupiah ke arah Rp16.300. Sedangkan level support rupiah di kisaran Rp16.250 per dolar AS," kata Ariston menutup analisisnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....