IHSG Naik Tipis pada Perdagangan Pagi ke Level 6.110

  • 30 Jul 2026 10:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pelaku pasar mencermati hasil evaluasi Indeks IDXBUMN20, meski tidak ada perubahan konstituen dalam indeks.
  • IHSG dibuka menguat 18,89 poin atau 0,31 persen ke level 6.110,28 pada perdagangan Kamis, 30 Juli 2026.
  • Phintraco Sekuritas menilai IHSG masih berpotensi menguji level psikologis 6.000, di tengah sentimen global, reformasi pasar modal, dan aksi jual investor asing.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Kamis, 30 Juli 2026. IHSG berada di level 6.110,28, naik 18,89 poin atau 0,31 persen dibandingkan penutupan kemarin di level 6.091,39.

Pada perdagangan sebelumnya, IHSG berakhir di zona merah setelah mendapat tekanan dari mayoritas sektor. Pelemahan terbesar berasal dari saham-saham sektor properti, sementara sektor teknologi menjadi satu-satunya yang masih mampu mencatat penguatan terbatas.

Meski dibuka menguat, Tim Analis Phintraco Sekuritas menilai pergerakan IHSG masih dibayangi berbagai sentimen eksternal dan domestik. Selain faktor fundamental, kondisi teknikal juga diperkirakan akan memengaruhi arah pergerakan indeks.

"IHSG diperkirakan akan menguji level psikologis di 6.000. Hal itu berlangsung di tengah berbagai sentimen eksternal, internal, serta faktor teknikal," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas dalam analisisnya, Kamis, 30 Juli 2026.

Pelaku pasar juga mencermati pengumuman Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai hasil evaluasi mayor Indeks IDXBUMN20. Hasil evaluasi tersebut akan berlaku mulai 5 Agustus 2026 hingga 2 Februari 2027.

Menurut Tim Phintraco, evaluasi kali ini tidak mengubah komposisi anggota indeks. Seluruh 20 saham tetap dipertahankan, meski BEI melakukan penyesuaian jumlah saham untuk perhitungan indeks serta bobot masing-masing emiten.

"Tidak ada perubahan konstituen sehingga seluruh 20 saham tetap menjadi penghuni indeks. Namun, terdapat penyesuaian jumlah saham dan bobot emiten dalam perhitungan indeks," ucap Tim Phintraco.

Saham BBRI, BMRI, BBNI, dan TLKM mengalami penurunan bobot setelah diterapkannya batas maksimal kepemilikan sebesar 15 persen. Sementara itu, bobot sejumlah emiten BUMN lain seperti ANTM, PGAS, MTEL, BRIS, dan PTBA justru meningkat.

Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self Regulatory Organization (SRO) terus melanjutkan reformasi pasar modal Indonesia. MSCI dijadwalkan kembali meninjau perkembangan reformasi tersebut pada November 2026.

Phintraco menilai BEI juga terus memperkuat komunikasi dengan penyedia indeks global sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pasar modal domestik. Sementara itu, OJK menargetkan aturan mengenai demutualisasi BEI dapat diterbitkan pada pekan kedua September 2026.

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia juga masih dibayangi arus keluar dana asing. Pada perdagangan sebelumnya investor asing tercatat membukukan jual bersih sebesar Rp183,81 miliar, yang masih menjadi sentimen yang diperhatikan pelaku pasar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....