Wanita Lebih Kuat Menahan Sakit daripada Pria, Benarkah?

  • 17 Jul 2024 08:00 WIB
  •  Cirebon

KBRN, Cirebon: Setiap kita pastinya penah merasakan sakit. Nah, saat kita mengalami rasa sakit, pernahkah terbesit pertanyaan: Apakah pria dan wanita merasakan rasa sakit secara berbeda? Ternyata, pada tingkat tertentu, memang ada perbedaan yang melekat antara pria dan wanita dalam memproses rasa sakit. Namun pertanyaan tentang jenis kelamin mana yang punya toleransi rasa sakit lebih tinggi? Sampai saat ini belum ada jawaban yang jelas.

Rasa sakit bisa dirasakan seseorang ketika neuron sensorik yang disebut nociceptor mendeteksi rangsangan nyeri di tubuh, kemudian mengirimkan sinyal ke otak untuk ditafsirkan sebagai rasa sakit. Rangsangan nyeri ini meliputi suhu ekstrem, nyeri mekanis, dan peradangan. Orang-orang menunjukkan perbedaan dalam cara merasakan setiap rangsangan nyeri tersebut, dan perbedaan ini berasal dari berbagai faktor, termasuk jenis kelamin seseorang.

Dikutuip dari Healthgrid.id, Sejumlah penelitian melaporkan bahwa wanita memiliki kepekaan rasa sakit yang lebih tinggi dan ambang rasa sakit yang lebih rendah daripada pria. Misalnya, sebuah penelitian yang terbit di German Medical Science pada 2012, meneliti bagaimana pria dan wanita merespons “tekanan fisik” yang dirasakan. Peneliti menemukan bahwa wanita lebih peka terhadap nyeri mekanis daripada pria. Nyeri mekanis terjadi saat tekanan diberikan pada tulang, cakram, atau saraf di tulang belakang.

Dalam penelitian lain, pria dan wanita diminta untuk menunjukkan kapan mereka merasakan rangsangan panas dan diminta untuk menilai intensitasnya. Hasilnya menunjukkan bahwa wanita memiliki ambang rasa sakit yang lebih rendah terhadap panas daripada pria.

“Sudah diketahui secara umum bahwa wanita lebih sensitif terhadap rasa sakit daripada pria,” kata Jeffrey Mogil, profesor ilmu saraf di University of McGill yang mempelajari perbedaan jenis kelamin dalam hal rasa sakit.

“Hal ini telah ditunjukkan pada manusia dalam ratusan penelitian, tidak semuanya signifikan secara statistik, tapi pada dasarnya semuanya mengarah ke arah yang sama," ucapnya.

Sementara penelitian lain menunjukkan, tidak ada perbedaan dalam cara pria dan wanita merespons panas yang menimbulkan rasa sakit. Perbedaan pendapat ini terjadi di antara para ilmuwan karena tidak ada metrik pasti untuk mengukur toleransi seseorang terhadap rasa sakit, kata Frank Porreca, profesor ilmu sarat di University of Arizona.

Ambang batas dan toleransi rasa sakit seseorang cenderung bervariasi di berbagai tes dan lingkungan, ditambah beberapa penelitian menemukan bahwa perempuan merupakan subjek tes yang lebih baik daripada pria sehingga memberikan penilaian yang lebih konsisten terhadap rasa sakit mereka.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....