Mengapa Meniup Makanan Tidak Disarankan? Ini Penjelasannya
- 05 Agt 2025 09:41 WIB
- Cirebon
KBRN, Cirebon: Tanpa disadari dan secara refleks ketika makanan atau minuman yang baru dihidangkan, khususnya makanan atau minuman panas, bibir kita akan secara refleks meniup makanan atau minuman panas tersebut. Dalam etika adat ketimuran, kebiasaan meniup makanan atau minuman yang masih panas dianggap kurang sopan, dan dalam dunia kesehatan, meniup makanan atau minuman panas juga memiliki dampak kesehatan yang serius serta larangan dari sudut pandang ajaran Islam.
Sejumlah penelitian medis menunjukkan bahwa meniup makanan atau minuman panas dapat meningkatkan risiko kontaminasi mikroba. Hasil riset di Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor mengungkapkan, makanan panas yang ditiup mengandung koloni bakteri hingga 10 kali lebih banyak dibandingkan makanan yang tidak ditiup.
“Udara dari mulut membawa banyak mikroorganisme yang bisa menempel pada makanan. Jika dikonsumsi, ini dapat memicu gangguan kesehatan, mulai dari diare hingga infeksi saluran pencernaan,” jelas dr. Lailatul Khikmah, peneliti kesehatan dari UNIDA, dalam publikasi resminya.
Selain itu, udara hembusan napas mengandung karbon dioksida (CO₂) yang dapat bereaksi dengan uap air panas membentuk asam karbonat (H₂CO₃). Jika dikonsumsi terus-menerus, zat ini bisa menurunkan keseimbangan pH tubuh dan berpotensi melemahkan sistem imun. Tidak hanya itu, mengonsumsi makanan atau minuman yang terlalu panas juga berisiko menyebabkan iritasi pada mulut, lidah, hingga tenggorokan, bahkan dikaitkan dengan meningkatnya risiko kanker kerongkongan.
Dalam perspektif Islam, larangan meniup makanan dan minuman sudah disampaikan Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Abu Dawud, Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Nabi melarang bernafas di dalam bejana (gelas) atau meniup ke dalamnya.”
(HR. Tirmidzi no. 1888, Abu Dawud no. 3728)
Menurut Imam An-Nawawi, larangan ini termasuk adab makan dan minum agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang lain dan menjaga keberkahan makanan. Mayoritas ulama memandang meniup makanan panas sebagai perbuatan makruh, yaitu tidak berdosa tetapi sebaiknya dihindari.
Ustadz Ahmad Syukron, pengajar kajian fiqih di Cirebon, mengatakan:
“Larangan ini sejalan dengan hikmah menjaga kesehatan. Islam selalu mengajarkan umatnya untuk bersih dan berhati-hati, termasuk dalam hal makan dan minum.”
Ada beberapa saran yang praktis untuk mendinginkan makanan panas:
- Menyendok makanan ke piring kecil agar cepat dingin
- Mengaduk perlahan hingga uap berkurang
- Menunggu beberapa menit sebelum dikonsumsi
- Menggunakan kipas kecil atau meniup dari jarak jauh tanpa menghembuskan langsung dari mulut
Baik dari sisi medis maupun ajaran Islam, meniup makanan atau minuman panas sebaiknya dihindari. Dari aspek medis, kebiasaan ini meningkatkan risiko kesehatan, sementara dari sisi syariat, hal ini dinilai makruh dan tidak sesuai dengan adab yang dicontohkan Rasulullah SAW. Dengan demikian, menunggu makanan hingga suhunya aman untuk dikonsumsi merupakan pilihan terbaik, demi kesehatan sekaligus keberkahan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....