Apakah “Masuk Angin” adalah Penyakit Khas Indonesia?

  • 18 Jun 2025 01:38 WIB
  •  Biak

KBRN, Biak: Budaya tidak hanya menghasilkan tradisi. Sebagaimana kata “budaya”, yang berarti memanfaatkan kemampuan berpikir, budaya juga menghasilkan wacana-wacana yang hingga saat ini masih dianut masyarakat, termasuk konsep “masuk angin”.

Fenomena masuk angin ini menarik, sebab ini bukan sekadar istilah penyakit, tetapi juga bagian dari budaya kesehatan khas Indonesia. Banyak masyarakat percaya bahwa angin yang masuk ke dalam tubuh—entah lewat pori-pori atau rongga lain—dapat menyebabkan gejala tubuh lemah, nyeri, hingga demam ringan. Meskipun tidak dapat dijelaskan secara ilmiah dalam istilah medis modern, keyakinan ini tetap kuat dan mengakar di masyarakat.

Gangguan kesehatan yang ditandai dengan perut kembung, mual, pusing, telah dipercaya oleh masyarakat sebagai gejala masuk angin. Padahal, istilah masuk angin tidak ada dalam kamus medis. Akan tetapi, dengan kecerdasan daya pikir para leluhur, mereka menciptakan istilah masuk angin untuk menyebut gejala serupa flu atau gangguan pencernaan yang masih menjadi kepercayaan hingga saat ini.

Menurut Prof. Dr. Atik Triratnawati, M.A., Guru Besar Antropologi Kesehatan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), masuk angin bukanlah nama penyakit dalam ilmu kedokteran, melainkan fenomena budaya. Istilah ini merupakan bentuk ekspresi lokal terhadap kondisi tubuh yang sedang tidak fit, dan biasanya menjadi sebutan umum untuk berbagai gejala ringan yang tidak mudah diklasifikasikan.

“Masuk angin adalah konsep budaya, bukan terminologi medis,” ujar Prof. Atik. Dalam tradisi masyarakat Jawa, bahkan dikenal tiga jenis masuk angin, masing-masing dengan karakteristik yang berbeda. Pertama adalah masuk angin biasa, yang gejalanya meliputi perut kembung, pegal, dan rasa panas di badan. Gejala ini kerap muncul setelah kehujanan, kurang tidur, atau makan tidak teratur.

Jenis kedua adalah masuk angin berat, yang biasanya ditandai dengan rasa mual, diare, atau tubuh terasa lelah luar biasa. Hal ini kerap terjadi ketika seseorang menunda makan dalam waktu lama atau melakukan aktivitas fisik berat tanpa cukup istirahat. Terakhir, terdapat istilah “angin kasep” atau dikenal pula sebagai “angin duduk” yang menjadi perhatian serius karena memiliki gejala menyerupai serangan jantung.

Dalam istilah medis, angin duduk merujuk pada kondisi angina pectoris, yaitu menurunnya aliran darah ke otot jantung. Berbeda dari serangan jantung total yang ditandai dengan penyumbatan arteri sepenuhnya, angin duduk bisa menjadi pertanda awal bahwa jantung sedang mengalami kekurangan oksigen, dan kondisi ini sangat membutuhkan perhatian medis segera.

Salah satu mitos terbesar yang masih dipercaya luas adalah keyakinan bahwa angin benar-benar "masuk" ke dalam tubuh dan menyebabkan sakit. Padahal, tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut. Dalam dunia kedokteran, penyakit terjadi karena interaksi antara mikroorganisme, sistem imun, dan gaya hidup, bukan karena angin malam semata.

Meskipun begitu, persepsi dan keyakinan masyarakat terhadap masuk angin tidak bisa diabaikan begitu saja. Dalam antropologi medis, konsep ini justru memperlihatkan bagaimana masyarakat menafsirkan rasa sakit, serta menunjukkan kearifan lokal dalam menangani kondisi kesehatan yang tidak selalu bisa dijelaskan oleh ilmu kedokteran barat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....