Kepala BPBD Sultra: Bombana Jadi Wilayah Paling Luas Terdampak Karhutla
- 28 Agt 2026 15:23 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari - Kabupaten Bombana menjadi wilayah dengan luasan kebakaran hutan dan lahan terbesar di Sulawesi Tenggara sepanjang Januari hingga Juli 2026, dengan total luasan lahan yang terbakar mencapai 1.913,64 hektare.
Luasan karhutla di Bombana menjadi perhatian pemerintah karena angkanya jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah lain di Sulawesi Tenggara.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah memperkuat dukungan sarana pemadaman di daerah tersebut.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sulawesi Tenggara, La Ode Saifuddin, mengatakan Bombana menjadi salah satu wilayah prioritas dalam penanganan karhutla karena memiliki luasan lahan terbakar paling besar.
“Bombana menjadi wilayah dengan luasan terbakar paling besar, sehingga peralatan pemadaman kita berikan di sana, termasuk sarana untuk menyuplai air. Kita melihat kebutuhan di lapangan dan berupaya memastikan daerah yang memiliki luasan kebakaran tinggi mendapatkan dukungan peralatan yang memadai,” ujarnya Jumat 28 Agustus 2026.
Tingginya angka tersebut juga berkaitan dengan meningkatnya aktivitas karhutla pada Juli. Dari 105 titik hotspot yang terdeteksi di Sultra selama bulan tersebut, sebagian besar berada di wilayah Bombana.
Kondisi kemarau membuat kawasan yang ditumbuhi vegetasi kering lebih mudah terbakar. Ketika api muncul dan didukung kondisi cuaca panas serta angin, kebakaran dapat dengan cepat meluas ke area lainnya.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara menyiapkan dukungan peralatan pemadaman bagi Bombana. Salah satunya berupa alkon yang dapat digunakan untuk mengambil air dari sumber terdekat saat proses pemadaman.
Pemprov Sultra menyiapkan lima unit alkon untuk Bombana dari total 22 unit yang akan didistribusikan ke sejumlah wilayah rawan karhutla. Penempatan peralatan tersebut diharapkan dapat mempercepat penanganan apabila terjadi kebakaran di lapangan.
Selain alkon, pemerintah juga menyiagakan sarana pendukung suplai air, termasuk mobil tangki di sejumlah wilayah yang dinilai rawan. Ketersediaan sumber air menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi kebakaran lahan selama musim kemarau.
Khusus Bombana, pemerintah juga menyiapkan alkon jinjing untuk mendukung penanganan kebakaran. Peralatan tersebut memiliki keunggulan karena lebih mudah dibawa mendekati lokasi kebakaran yang sulit dijangkau kendaraan.
“Alkon jinjing lebih praktis karena bisa dibawa mendekati lokasi kebakaran dan dioperasikan dengan lebih mudah oleh masyarakat. Dengan kondisi medan tertentu, peralatan seperti ini akan sangat membantu karena petugas tidak selalu bisa membawa peralatan berukuran besar sampai ke titik api,” tambahnya.
Dukungan peralatan tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan penanganan karhutla di Bombana.
Selain pemerintah dan petugas, keterlibatan masyarakat juga diperlukan untuk mendeteksi serta menangani titik api sejak awal.
Peningkatan kesiapsiagaan menjadi semakin penting karena puncak musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung. Kondisi lahan yang semakin kering berpotensi meningkatkan risiko kebakaran apabila tidak diimbangi dengan pengawasan dan pencegahan.
Pemerintah mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, terutama penggunaan api di kawasan lahan kering.
Selain juga melakukan pelaporan cepat ketika menemukan titik api juga diperlukan agar penanganan dapat dilakukan sebelum kebakaran meluas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....