Kemarau Panjang, 40 Persen Sawah di Konsel Terancam Kekeringan
- 28 Agt 2026 15:28 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari - Sekitar 40 persen lahan persawahan di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, berpotensi terdampak kekeringan seiring memasuki periode musim kemarau.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan karena sebagian lahan pertanian masih mengandalkan curah hujan sebagai sumber utama pengairan.
Bupati Konawe Selatan, Irham Kalenggo, mengatakan sejumlah wilayah mulai merasakan dampak kekeringan, di antaranya Kecamatan Lalembuu, Potoro hingga Mowila. Kondisi semakin sulit ketika sungai-sungai kecil yang selama ini menjadi sumber air pertanian mulai mengering.
“Kalau air untuk kebutuhan minum tidak ada masalah, ini untuk pertanian yang sulit karena kali-kali kecil kita kering. Sekitar 40 persen sawah kita masih mengandalkan air hujan, sehingga kalau kemarau panjang seperti sekarang, tentu sangat rentan karena sumber air yang biasa dimanfaatkan untuk mengairi sawah juga mulai berkurang,” kata Irham, Jumat (28/8/2026).
Menurutnya, pemerintah daerah sebenarnya telah menyiapkan pompa air untuk membantu mengalirkan air ke lahan persawahan. Langkah tersebut menjadi salah satu upaya menjaga produktivitas pertanian ketika pasokan air dari hujan mulai terbatas.
Namun, penggunaan pompa saat ini tidak dapat dilakukan secara maksimal. Sejumlah sumber air yang biasanya menjadi lokasi pengambilan air untuk kemudian dialirkan ke persawahan ikut mengalami kekeringan.
“Biasanya kita masih bisa pompa, sekarang sama sekali tidak bisa. Karena sumber airnya juga sudah mulai kering, jadi pompa yang kita siapkan tidak bisa bekerja seperti biasanya. Ini yang menjadi persoalan kita sekarang, terutama untuk sawah-sawah yang memang sangat bergantung pada sumber air permukaan,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah perlu mencari alternatif sumber air untuk mempertahankan lahan pertanian yang masih produktif. Upaya pemenuhan kebutuhan air menjadi semakin penting karena sektor pertanian menjadi salah satu aktivitas masyarakat di Konawe Selatan.
Kekeringan tidak hanya berdampak pada ketersediaan air untuk tanaman, tetapi juga dapat memengaruhi pola tanam apabila berlangsung dalam waktu yang panjang. Petani berpotensi mengalami kesulitan menentukan waktu tanam maupun mempertahankan tanaman yang sudah berada di lahan.
Selain Kecamatan Lalembuu, Potoro dan Mowila, pemerintah daerah terus memantau kondisi wilayah lain untuk melihat perkembangan dampak kemarau. Pemantauan diperlukan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat apabila terjadi peningkatan kebutuhan air pertanian.
Irham menyebutkan, kondisi kekeringan saat ini lebih terasa pada kebutuhan pertanian dibandingkan kebutuhan air untuk konsumsi masyarakat. Karena itu, perhatian pemerintah diarahkan pada bagaimana menjaga ketersediaan air bagi lahan sawah selama musim kemarau berlangsung.
Untuk diketahui, Kabupaten Konawe Selatan memiliki 25 kecamatan, mulai dari Tinanggea, Lalembuu, Andoolo, Andoolo Barat, Buke, Palangga, Palangga Selatan, Baito, Lainea, Laeya, Kolono, Kolono Timur, Laonti, Moramo dan Moramo Utara.
Wilayah lainnya meliputi Konda, Wolasi, Ranomeeto, Ranomeeto Barat, Landono, Mowila, Sabulakoa, Angata, Benua dan Basala. Luas wilayah Konawe Selatan mencapai sekitar 451.421 hektare sehingga pengawasan dampak kekeringan dan karhutla membutuhkan koordinasi lintas wilayah.
Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah daerah terus mendorong kesiapsiagaan menghadapi kemarau, terutama dalam menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian dan mencegah meluasnya kebakaran lahan. Langkah antisipasi diharapkan dapat menekan dampak kekeringan terhadap aktivitas masyarakat hingga musim kemarau berakhir.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....