Kepemimpinan yang Merangkul: Pelajaran Berharga dari Elisabeth Najoan

  • 24 Agt 2026 06:16 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Kepemimpinan tidak hanya diukur dari jabatan yang tinggi, tetapi juga dari kemampuan membangun kebersamaan dan menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Nilai itulah yang dibagikan oleh Ibu Elisabeth Najoan, purna tugas Kepala Biro Umum Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, dalam Segmen Bincang Inspiratif RRI.

Dalam dialog tersebut, Elisabeth menegaskan bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak mungkin dicapai seorang diri. Menurutnya, kunci utama kepemimpinan adalah membangun tim yang solid dan memberikan ruang bagi setiap anggota untuk berkontribusi.

"Rekan kerja itu bukan bawahan yang hanya menerima perintah. Mereka adalah tim kerja yang harus dilibatkan dalam proses mencapai tujuan bersama," ungkapnya.

Selama memimpin di lingkungan Mahkamah Konstitusi, Elisabeth berupaya menciptakan budaya kerja yang terbuka dan partisipatif. Ia percaya bahwa setiap orang memiliki potensi, pengalaman, dan gagasan yang dapat memperkuat organisasi.

Karena itu, dalam setiap pengambilan keputusan, dirinya berusaha mendengar masukan dari berbagai pihak. Baginya, pemimpin yang baik bukanlah orang yang merasa paling tahu, melainkan mereka yang mampu menghargai pendapat dan kemampuan orang lain.

"Saya selalu berusaha mendengarkan. Kadang-kadang ide terbaik justru datang dari orang-orang yang sehari-hari bekerja di lapangan. Mereka melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda," jelasnya.

Selain membangun komunikasi yang baik, Elisabeth juga menekankan pentingnya memberi contoh melalui tindakan nyata. Menurutnya, penghormatan dari tim tidak lahir karena jabatan, melainkan karena keteladanan.

"Kalau ingin dihormati, kita harus menghormati orang lain terlebih dahulu. Kalau ingin tim bekerja dengan baik, pemimpinnya juga harus menunjukkan komitmen dan tanggung jawab yang sama," katanya.

Pengalaman panjang yang dimulai dari dunia penyiaran RRI Kendari hingga mencapai posisi strategis di Mahkamah Konstitusi membuat Elisabeth memahami bahwa keberhasilan selalu lahir dari kolaborasi.

Ia mengingat bagaimana selama menjadi penyiar RRI, setiap program siaran tidak pernah berhasil hanya karena satu orang. Ada tim yang bekerja di balik layar, mulai dari teknisi, reporter, operator hingga produser. Nilai kerja sama tersebut terus dibawanya hingga memasuki dunia birokrasi.

Menurut Elisabeth, tantangan terbesar seorang pemimpin di era sekarang adalah membangun rasa memiliki dalam sebuah organisasi. Ketika setiap anggota merasa dihargai dan dilibatkan, maka mereka akan bekerja bukan karena kewajiban semata, melainkan karena merasa menjadi bagian dari tujuan besar yang ingin dicapai bersama.

Menjelang akhir dialog, Elisabeth membagikan pesan kepada para pendengar, khususnya generasi muda yang kelak akan menjadi pemimpin di berbagai bidang.

"Jangan pernah merasa bisa bekerja sendiri. Bangun kerja sama, hargai orang lain, dan terus belajar. Pemimpin yang baik bukan yang berjalan paling depan sendirian, tetapi yang mampu mengajak timnya berjalan bersama menuju tujuan yang sama," pesannya.

Dari perjalanan panjang Elisabeth Najoan, pendengar dapat memetik pelajaran bahwa kepemimpinan sejati bukanlah tentang kekuasaan, melainkan tentang pelayanan, keteladanan, dan kemampuan merangkul orang lain untuk tumbuh bersama mencapai keberhasilan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....