Bincang Inspiratif Pak Lasirama: Dari Kendari ke Berbagai Penjuru Nusantara
- 24 Agt 2026 06:25 WIB
- Kendari
RRi.CO.ID, Kendari - Pengabdian yang panjang sering kali melahirkan banyak cerita, pengalaman, dan pelajaran hidup yang tidak ternilai. Hal itulah yang tergambar dalam segmen Bincang Inspiratif RRI Kendari yang menghadirkan Lasirama, salah satu pensiunan RRI yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk dunia penyiaran publik.
Dalam dialog tersebut, Lasirama mengisahkan awal perjalanan kariernya yang dimulai pada era 1970-an. Saat itu, dunia radio masih menjadi media utama masyarakat untuk memperoleh informasi. Lasirama mengaku bergabung dengan RRI bukan karena memiliki pemahaman yang mendalam tentang dunia penyiaran, melainkan karena dorongan dan dukungan keluarga.
"Saya bergabung pada masa kepala RRI yang kedua di Kendari. Waktu itu saya dibawa oleh keluarga. Terus terang saya belum memahami seperti apa pekerjaan di RRI. Namun seiring perjalanan waktu, saya justru menemukan bahwa RRI menjadi bagian penting dalam hidup saya dan tempat saya mengabdikan diri selama puluhan tahun," ungkap Lasirama.
Dari ketidaktahuan tersebut, tumbuh kecintaan yang kuat terhadap lembaga penyiaran publik. Sedikit demi sedikit, Lasirama mempelajari berbagai aspek pekerjaan radio hingga akhirnya menjadi sosok yang dikenal luas dalam lingkungan RRI.
Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi saat dirinya mendapat tugas meliput Pekan Olahraga Daerah (Porda) di Baubau. Di tengah pelaksanaan tugas, kondisi kesehatannya menurun hingga harus terbaring sakit. Namun keadaan tersebut tidak membuatnya meninggalkan tanggung jawab sebagai insan radio.
"Saat meliput Porda di Baubau, saya sempat jatuh sakit. Tetapi karena merasa memiliki tanggung jawab kepada lembaga dan kepada pendengar, saya tetap berusaha menjalankan tugas. Saya meminta bantuan orang lain untuk melihat dan menyampaikan kondisi pertandingan kepada saya. Dari tempat tidur, saya menyusun naskah berita dan memastikan laporan tetap bisa dikirim," kenangnya.
Kisah tersebut menjadi gambaran tentang dedikasi seorang insan penyiaran yang tetap menjalankan amanah meski dalam kondisi yang tidak mudah. Bagi Lasirama, tugas jurnalistik bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk pengabdian yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Selama berkarier, Lasirama memegang sejumlah prinsip yang menjadi pegangan hidup hingga saat ini. Menurutnya, disiplin merupakan fondasi utama dalam bekerja. Tanpa disiplin, seseorang akan sulit mencapai hasil terbaik dalam profesinya.
"Yang pertama adalah disiplin. Ketika kita disiplin terhadap waktu, tanggung jawab, dan aturan, maka pekerjaan akan berjalan dengan baik. Kedua, integritas dan kinerja harus selalu dijaga. Apa yang menjadi tugas harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan profesional. Ketiga, kejujuran, keadilan, dan kebenaran harus selalu dijunjung tinggi. Di mana pun kita berada, nilai-nilai itu tidak boleh ditinggalkan karena itulah yang akan menentukan kepercayaan masyarakat kepada kita," katanya.
Perjalanan panjang Lasirama bersama RRI dimulai di Kendari sejak tahun 1976. Selama 27 tahun mengabdi di Kota Kendari hingga tahun 2003, dirinya turut menyaksikan berbagai perkembangan lembaga penyiaran publik tersebut. Setelah itu, ia mendapat amanah untuk bertugas di berbagai daerah di Indonesia.
Perjalanan berikutnya membawanya ke Makassar. Di kota tersebut, Lasirama turut melahirkan berbagai inovasi program siaran yang mendapat sambutan positif dari masyarakat. Salah satunya adalah program religi Titian Ilahi, sebuah program yang bahkan mendapat perhatian hingga diresmikan langsung oleh Gubernur Sulawesi Selatan pada masa itu.
Tak berhenti di Makassar, pengabdian Lasirama terus berlanjut. Tahun 2007, ia merantau ke Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Di daerah tersebut, ia kembali menghadirkan berbagai terobosan program siaran yang mampu menarik perhatian masyarakat dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi stasiun penyiaran setempat.
Perjalanan kariernya kemudian berlanjut ke RRI Mataram yang dikenal sebagai daerah dengan julukan Negeri Seribu Masjid. Setelah itu, Lasirama juga pernah mengemban tugas di Gorontalo, Jakarta, Banjarmasin, hingga Stasiun Nasional RRI Makassar.
Menurutnya, setiap daerah memiliki karakteristik dan tantangan tersendiri. Namun justru dari keberagaman tersebut lahir berbagai program unggulan yang selalu dinantikan pendengar.
"Setiap tempat punya cerita. Setiap daerah memiliki keunikan dan kebutuhan masyarakat yang berbeda. Karena itu, setiap tempat selalu melahirkan program-program unggulan yang menjadi kebanggaan bersama dan ditunggu oleh pendengar," tuturnya.
Sepanjang kariernya, Lasirama dipercaya memimpin di tujuh daerah yang berbeda. Pengalaman tersebut memberinya banyak pelajaran tentang kepemimpinan, komunikasi, dan pentingnya membangun kerja sama dalam organisasi.
Suasana dialog semakin hangat ketika presenter menantang Lasirama untuk bernostalgia menjadi seorang reporter seperti masa-masa awal kariernya. Tantangan tersebut langsung disambut dengan antusias. Dengan penuh semangat, Lasirama memperagakan gaya pelaporan pertandingan sepak bola layaknya reporter lapangan.
Suara dan intonasi khas reporter radio seakan membawa pendengar kembali ke masa kejayaan siaran langsung olahraga di radio. Nostalgia tersebut mengundang senyum dan kekaguman, sekaligus menunjukkan bahwa semangat jurnalistik dalam dirinya masih tetap hidup meski telah memasuki masa pensiun.
Ketika ditanya mengenai pelajaran hidup paling berharga yang diperoleh selama mengabdi di RRI, Lasirama menekankan pentingnya menjaga hubungan kekeluargaan dan kebersamaan.
"Yang paling berharga adalah hubungan kekeluargaan. Kebersamaan yang terjalin selama bekerja itu nilainya sangat besar. Hubungan baik dengan rekan kerja, saling menghargai, saling membantu, dan menjaga silaturahmi merupakan modal yang sangat penting dalam kehidupan. Nilai-nilai itu harus terus dijaga dan dipupuk," ujarnya.
Bagi Lasirama, keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari jabatan atau prestasi yang diraih, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang diberikan kepada orang lain serta bagaimana dirinya dikenang setelah tidak lagi berada di tempat tersebut.
Menutup perbincangan inspiratif tersebut, Lasirama menyampaikan pesan yang mencerminkan jati dirinya selama puluhan tahun mengabdi.
"Tunjukkan jati diri bahwa inilah saya. Jadilah pribadi yang bernilai, bermanfaat, dan dibutuhkan oleh lingkungan. Di mana pun kita berada, berusahalah memberikan manfaat bagi orang lain. Jika suatu saat kita pergi atau berpindah tempat, tinggalkanlah jejak kebaikan sehingga kita selalu dikenang karena karya, pengabdian, dan manfaat yang telah diberikan."
Kisah perjalanan Lasirama menjadi bukti bahwa pengabdian yang dijalani dengan ketulusan, disiplin, integritas, dan semangat melayani akan selalu meninggalkan jejak yang berarti. Dari Kendari hingga berbagai daerah di Nusantara, perjalanan panjang tersebut bukan hanya tentang karier, melainkan tentang dedikasi untuk terus memberi manfaat kepada masyarakat melalui siaran yang mencerdaskan dan menginspirasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....