Kendari Perkuat Pencegahan Stunting, 10 Ribu Keluarga Jadi Sasaran
- 26 Agt 2026 12:21 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari – Pemerintah Kota Kendari terus memperkuat upaya pencegahan dan penanganan stunting dengan menjadikan keluarga berisiko sebagai sasaran utama intervensi.
Upaya tersebut tidak hanya difokuskan pada anak yang sudah mengalami stunting, tetapi juga diarahkan untuk mencegah munculnya kasus baru melalui pendampingan keluarga secara berkelanjutan.
Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, menyampaikan hal tersebut saat menghadiri kegiatan Advokasi dan Promosi Pokja kepada stakeholder terkait Gerakan Orang Tua Asuh serta Penguatan Tim Pendamping Keluarga (TPK) dalam penanganan, pencegahan dan penurunan stunting di Aula Samaturu Balai Kota Kendari, Rabu 26 Agustus 2026.
Siska menegaskan, stunting merupakan persoalan serius karena berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia di masa mendatang.
“Bicara stunting, bicara masa depan. Kalau sudah anak-anak kita tidak kita perhatikan, siapa yang meneruskan daerah ini dan bangsa,” tegas Siska.
Menurutnya, penanganan stunting membutuhkan keterlibatan seluruh unsur pemerintah dan masyarakat. Persoalan tersebut tidak dapat hanya dibebankan kepada satu organisasi perangkat daerah.
Pencegahan juga harus dilakukan secara terintegrasi dengan memperhatikan berbagai faktor yang memengaruhi tumbuh kembang anak, mulai dari kondisi rumah, sanitasi, pola asuh, lingkungan, perilaku hidup bersih dan sehat, hingga kondisi sosial ekonomi keluarga.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Kota Kendari turun dari 25,7 persen pada 2023 menjadi 24,4 persen pada 2024.
Sementara berdasarkan data E-PPGBM, angka stunting pada Desember 2025 tercatat sebesar 1,73 persen. Jumlah anak yang mengalami stunting juga turun dari sekitar 500 anak menjadi 462 anak.
Namun, Siska mengingatkan pemerintah tidak boleh hanya berfokus pada anak yang sudah mengalami stunting. Sebab, terdapat sekitar 10 ribu keluarga yang masuk kategori berisiko.
“Kalau kita hanya fokus sama 460, saya yakin pasti bertambah. Karena yang 10 ribu ini kita tidak fokus. Padahal faktor risiko ini yang akan meningkatkan menjadi status penderitaan,” ujarnya.
Karena itu, intervensi terhadap keluarga berisiko dinilai penting untuk mencegah munculnya kasus baru sekaligus mempertahankan tren penurunan angka stunting di Kota Kendari.
Hingga Agustus 2026, sebanyak 3.349 sasaran telah mendapatkan pendampingan Tim Pendamping Keluarga (TPK). Jumlah tersebut terdiri dari 374 pasangan calon pengantin, 823 ibu hamil, 308 ibu pascapersalinan dan 1.844 bayi di bawah dua tahun (baduta).
TPK juga berperan dalam mendukung distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi kelompok sasaran 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui dan baduta, termasuk balita sesuai sasaran program.
Di Kota Kendari, penerima MBG telah mencapai 12.720 orang dari target 14.797 sasaran atau sekitar 86 persen. Data tersebut telah disampaikan kepada masing-masing Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kota Kendari, Jahudding, mengatakan jumlah TPK yang dibentuk mencapai 525 orang. Tim tersebut melibatkan kader PKK dan kader KB untuk melakukan pendampingan kepada calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, baduta dan balita.
“Hasil yang diharapkan dari capaian ini adalah tentu meningkatkan kapasitas dan pemahaman TPK dalam melaksanakan pendampingan keluarga dalam rangka pencegahan dan penurunan angka stunting di Kota Kendari,” ungkap Jahudding.
Pemerintah Kota Kendari juga mendorong keterlibatan lebih luas melalui Gerakan Orang Tua Asuh dan sinergi lintas OPD. Langkah tersebut diharapkan menjadikan pencegahan stunting sebagai gerakan bersama untuk memastikan anak-anak Kendari tumbuh sehat dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....