Selain Makanan Manis, Ini Pemicu Utama Diabetes di Usia Muda
- 22 Jul 2026 09:02 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari - Penyakit diabetes melitus selama ini sering dipersepsikan sebagai gangguan kesehatan yang hanya mengintai kelompok usia lanjut. Namun, beberapa tahun terakhir menunjukkan tren pergeseran yang cukup mengkhawatirkan, di mana kasus diabetes tipe 2 semakin marak ditemukan pada usia muda, mulai dari remaja hingga dewasa awal di rentang usia 20-an.
Masyarakat umum biasanya secara otomatis menunjuk konsumsi makanan dan minuman manis sebagai tunggal penyebab melonjaknya kadar gula darah. Padahal, mekanika metabolisme tubuh jauh lebih kompleks; konsumsi gula berlebih memang berkontribusi, tetapi terdapat deretan pemicu utama lainnya yang sering kali luput dari perhatian generasi muda.
Pola hidup modern yang menuntut mobilitas serbacepat dan serbadigital tanpa disadari membentuk perilaku harian yang merusak sensitivitas hormon insulin. Kurangnya aktivitas fisik yang dipadukan dengan tingkat stres tinggi menjadi kombinasi tersembunyi yang mempercepat risiko resistensi insulin di dalam tubuh.
Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) serta laporan medis dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, diabetes tipe 2 terjadi ketika sel-sel tubuh menjadi kebal atau kurang sensitif terhadap insulin. Akibatnya, glukosa yang seharusnya diubah menjadi energi justru menumpuk di dalam aliran darah.
Bagi masyarakat usia muda, sangat penting untuk mengenali berbagai faktor pemicu utama di luar konsumsi gula yang dapat meningkatkan risiko diabetes sejak dini:
1. Gaya Hidup Kurang Bergerak (Sedentary Lifestyle)
Kebiasaan duduk terlalu lama di depan layar komputer atau gawai tanpa diselingi aktivitas fisik membuat otot-otot tubuh jarang berkontraksi. Otot merupakan konsumen glukosa terbesar di dalam tubuh. Ketika otot tidak aktif, penyerapan glukosa dari aliran darah menjadi terhambat, sehingga memicu penumpukan gula darah.
2. Stres Kronis dan Pola Tidur Buruk
Tekanan pekerjaan maupun beban pikiran memicu tubuh memproduksi hormon kortisol dan adrenalin secara berlebihan. Kedua hormon stres ini secara alami meningkatkan kadar gula darah untuk menyediakan energi darurat. Jika kondisi ini terjadi terus-menerus dan ditambah dengan kebiasaan sering begadang, gangguan regulasi hormon metabolisme akan terjadi lebih cepat.
| Baca juga: Makanan Karsinogenik Pemicu Kanker Tubuh |
3. Akumulasi Lemak Viseral (Obesitas Sentral)
Penumpukan lemak di area perut atau lemak viseral jauh lebih berbahaya dibandingkan lemak di area tubuh lainnya. Lemak di bagian perut secara aktif melepas senyawa kimia peradangan yang dapat merusak jaringan dan mengganggu kerja hormon insulin, meskipun seseorang mungkin memiliki berat badan yang secara keseluruhan terlihat normal.
Menyikapi ancaman ini, masyarakat di berbagai daerah, termasuk generasi muda di Kota Kendari, diimbau untuk mulai melakukan langkah pencegahan sejak dini. Melakukan pemeriksaan kadar gula darah secara berkala, menjaga pola tidur yang teratur, serta menyempatkan berolahraga ringan minimal 150 menit per minggu merupakan langkah krusial untuk menjaga fungsi metabolisme tetap optimal.
Pada akhirnya, menjaga diri dari ancaman diabetes tidak cukup hanya dengan mengurangi takaran gula pada minuman kekinian. Mengubah pola pikir menuju gaya hidup yang aktif, mengelola stres dengan bijak, dan menjaga pola istirahat merupakan kunci utama agar terhindar dari risiko penyakit metabolik di masa muda.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....