Kebakaran Muara Angke: Mengapa Api Cepat Meluas di Permukiman Padat
- 27 Agt 2026 11:47 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Kebakaran menghanguskan sekitar 60 rumah di Muara Angke dan berdampak pada sekitar 180 kepala keluarga.
- Permukiman padat dan material bangunan yang mudah terbakar membuat api cepat merambat.
- Warga terdampak membutuhkan tempat pengungsian, makanan, pakaian baru, obat-obatan, serta kebutuhan bayi dan perempuan.
RRI.CO.ID, Jakarta – Kebakaran melanda permukiman padat di Jalan Dermaga Ujung, RW 22, Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu malam, 26 Agustus 2026. Api menghanguskan sekitar 60 rumah dan berdampak terhadap ratusan warga, sementara penyebab kebakaran masih diselidiki kepolisian.
Kondisi permukiman berupa rumah panggung, kepadatan bangunan, material yang mudah terbakar, serta akses pemadaman yang tidak sederhana menjadi sejumlah faktor yang membuat api sulit dikendalikan.
Lima Jam Mengendalikan Api
Kepala Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan atau Gulkarmat Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu Budi Haryono mengatakan, petugas menerima informasi kebakaran sekitar pukul 18.50 WIB. Sebanyak 22 unit kendaraan pemadam dan pendukung dengan 110 personel kemudian dikerahkan ke lokasi.
Petugas berhasil melakukan lokalisasi sekitar pukul 20.29 WIB, tetapi proses pemadaman berlangsung lebih lama karena karakter permukiman. “Memang agak lama karena area yang terbakar itu pemukiman padat dan rumah panggung empang,” ujar Budi Haryono dalam wawancara dengan Radio 91,2 FM Pro 1 RRI Jakarta, Kamis, 27 Agustus 2026.
Menurut catatan Sudin Gulkarmat Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu, api akhirnya berhasil dipadamkan pada Kamis, 27 Agustus 2026, sekitar pukul 00.12 WIB. Artinya, petugas membutuhkan waktu sekitar lima jam sejak proses pemadaman dimulai untuk mengatasi kebakaran.
Lokasi kebakaran memiliki karakter yang menyulitkan pergerakan petugas. Budi menyebut keberadaan air, rumah panggung, dan sampah membuat akses menjadi berisiko, sehingga petugas harus memperhitungkan keselamatan anggota saat melakukan pemadaman.
Kepadatan Menjadi Persoalan Tersembunyi
Kebakaran di permukiman padat memiliki persoalan berbeda dibanding kebakaran di area yang bangunannya lebih renggang. Ketika jarak antarbangunan sangat dekat dan sebagian material mudah terbakar, api dapat berpindah dari satu bangunan ke bangunan lain dalam waktu relatif singkat.
Di Muara Angke, kondisi tersebut diperburuk oleh karakter rumah panggung dan lingkungan sekitar permukiman. “Yang kami lakukan membuat zonasi dari timur dan barat untuk mencegah perambatan, lokalisir, lalu pemadaman sampai selesai,” kata Budi.
Sumber air, menurut Budi, justru bukan persoalan utama dalam peristiwa ini karena lokasi kebakaran berada di dekat laut. Tantangan terbesar berada pada kepadatan permukiman dan material yang mudah terbakar sehingga petugas harus mencegah api terus menjalar.
60 Rumah dan Ratusan Warga Terdampak
Data sementara menunjukkan sekitar 60 rumah terdampak kebakaran dengan luas area sekitar 60 meter x 40 meter atau 2.400 meter persegi. Sebanyak 180 kepala keluarga kehilangan atau terdampak tempat tinggal akibat peristiwa tersebut.
Ketua Bidang Infokom Palang Merah Indonesia atau PMI Provinsi DKI Jakarta Nurhasanudin atau Bang Acang mengatakan data sementara yang dihimpun PMI mencapai sekitar 720 jiwa terdampak.
Penyebab Belum Bisa Disimpulkan
Di tengah besarnya dampak kebakaran, penyebab api belum dapat dipastikan. Kepolisian masih melakukan pemeriksaan tempat kejadian perkara dan meminta keterangan dari sejumlah saksi.
Kanit Reskrim Polsek Sunda Kelapa AKP Eri Suroto mengatakan polisi telah memasang garis polisi di lokasi. “Untuk mengetahui penyebab kebakaran, tentu harus melalui penyelidikan dan pemeriksaan di Puslabfor Mabes Polri dalam mengungkap penyebab kebakaran,” ucap Eri seperti dilansir kantor berita Antara.
“Pagi ini, kami sudah di lokasi kejadian, melakukan pemeriksaan dan pemasangan garis polisi,” kata Eri melanjutkan penjelasannya.
Dia menyebutkan sejauh ini, tidak ditemukan korban jiwa meninggal dunia dan hanya ada dua orang yang mengalami luka akibat kejadian tersebut.
“Kedua korban berinisial BH (54) yang luka di bagian lutut dan petugas Damkar berinisial TM (54) yang mengalami luka tusuk di bagian kaki, yang sudah dirujuk ke RS Atma Jaya Pluit,” kata Eri.
Kemarau Memperbesar Risiko
Budi mengatakan Sudin Gulkarmat Jakarta Utara mencatat 129 kejadian kebakaran sejak Januari hingga 17 Agustus 2026. Menurut dia, kejadian tersebut banyak berkaitan dengan listrik, kompor gas, serta persoalan pembakaran sampah.
Kondisi cuaca panas dan kemarau dapat memperbesar risiko ketika berhadapan dengan material kering. “Begitu ada penyalaan sedikit, sangat cepat perambatannya,” ujar Budi.
Warga Membutuhkan Bantuan Dasar
PMI dan BPBD telah mendirikan tenda serta menyiapkan layanan dasar, meskipun pada malam kejadian sebagian warga masih memilih mencari dan menyelamatkan barang-barang yang tersisa dari rumah mereka. PMI juga telah mengirimkan hygiene kit dan family kit ke posko di sekitar lokasi. Bantuan tersebut diperlukan karena sebagian besar barang kebutuhan warga ikut terbakar.
Bang Acang mengatakan kebutuhan warga tidak berhenti pada makanan. “Yang pasti kalau kejadian kebakaran ini, pertama karena kehilangan rumah tinggal, mereka pastinya membutuhkan tenda pengungsian,” kata Bang Acang.
Menurut dia, warga juga membutuhkan makanan siap saji, pakaian baru, obat-obatan, popok untuk bayi dan kebutuhan perempuan. Bantuan pakaian, kata dia, sebaiknya berupa pakaian baru agar warga dapat menggunakannya secara layak selama masa penanganan.
Kata Kunci / Tags
Audio
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....