Pemkot Jakbar Perluas Implementasi Wolbachia di Cengkareng
- 21 Agt 2026 17:13 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah Kota Jakarta Barat meluncurkan program penanggulangan demam berdarah dengue (DBD) menggunakan metode Wolbachia di Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Program ini menjadi implementasi kedua Wolbachia di Jakarta Barat setelah sebelumnya diterapkan di Kecamatan Kembangan.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat, Sahruna mengatakan, kasus DBD di Jakarta Barat masih cukup tinggi. Berdasarkan laporan hingga 20 Agustus 2026, tercatat 1.591 kasus DBD di Jakarta Barat dengan Incident Rate (IR) atau angka kasus baru sebesar 62,3 per 100.000 penduduk.
“Ini cukup tinggi, khususnya di Kecamatan Cengkareng. Oleh karena itu kami pilih Kecamatan Cengkareng menjadi implementasi kedua program Wolbachia di Jakarta Barat, setelah Kecamatan Kembangan,” kata Sahruna.
Dari delapan kecamatan di Jakarta Barat, Kecamatan Cengkareng menjadi wilayah dengan jumlah kasus dan IR tertinggi. Kecamatan yang terdiri atas enam kelurahan tersebut mencatat 563 kasus dengan IR 96,7 per 100.000 penduduk.
Sementara itu, Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, menjadi kelurahan dengan jumlah kasus dan IR tertinggi di Jakarta Barat, yakni 234 kasus dengan IR 133,6 per 100.000 penduduk.
“Sehingga nanti ke depannya Kecamatan Cengkareng juga akan menjadi salah satu kecamatan yang terendah dalam kasus DBD, seperti Kembangan,” ucapnya.
Menurut Sahruna, penerapan Wolbachia di Kecamatan Kembangan sebelumnya telah memberikan dampak terhadap penurunan kasus DBD. Kecamatan tersebut kini tercatat sebagai wilayah dengan IR terendah di Jakarta Barat.
“Kalau target ya kita nggak bisa menargetkan waktunya berapa lama ya. Tapi belajar dari Kecamatan Kembangan itu butuh waktu dua tahun untuk sampai menjadi bagus hasilnya. Kami juga berharap jangan sampai dua tahun, mudah-mudahan setahun sudah bisa terhasil,” ujar Sahruna.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Sri Puji Wahyuni, mendukung penerapan Wolbachia sebagai salah satu upaya pencegahan DBD.
Namun, ia menegaskan program tersebut harus berjalan beriringan dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang dilakukan secara rutin dan konsisten.
“Ini salah satu upaya untuk pencegahan DBD di samping upaya-upaya lain yang tidak boleh dilupakan yaitu PSN. Jadi PSN harus tetap secara rutin dan konsisten, istiqomah dilaksanakan,” katanya.
Sri juga meminta kegiatan PSN menyasar lahan-lahan kosong yang berpotensi menjadi tempat perindukan nyamuk penyebab DBD.
Menurutnya, penanggulangan DBD membutuhkan sinergi antara pemerintah, masyarakat, media massa, serta berbagai sektor lainnya.
“Jadi ini kegiatan yang sinergis, dan mohon bantuan dari semua pihak baik masyarakat, kemudian media masa dan lintas sektor lainnya untuk sama-sama kita bergerak. Agar DKI Jakarta bebas dari DBD dan cita-cita kami di 2030 itu kematian DBD adalah nol,” ujarnya.
Kesempatan yang sama, Sekretaris Kota Jakarta Barat, Imron Sjahrin, mengapresiasi implementasi program Wolbachia di Kecamatan Cengkareng.
Ia mengimbau seluruh pihak terkait, termasuk unsur masyarakat dan pemangku kepentingan, turut berperan aktif dalam menyukseskan program tersebut.
Menurut Imron, keberhasilan penerapan Wolbachia membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, camat, lurah, tokoh masyarakat, hingga pihak swasta.
“Ini semua perlu dukungan keterlibatan semua unsur sehingga nantinya implementasi program Wolbachia di Kecamatan Cengkareng bisa berhasil seperti yang kita pernah lakukan di Kecamatan Kembangan,” kata Imron.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....