Maknai Kemerdekaan, Aqua Berdayakan Masyarakat Sekitar Berkarya di Industri
- 17 Agt 2026 20:24 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Sejak mulai beroperasi pada April 2016, Pabrik Aqua Tanggamus berkomitmen untuk memprioritaskan masyarakat sekitar sebagai bagian dari tenaga kerjanya. Alih-alih merekrut dari luar daerah, perusahaan memilih untuk membekali warga sekitar, yang sebelumnya banyak menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan pekerjaan informal, dengan pelatihan dan keterampilan yang dibutuhkan agar dapat berkarya di lingkungan industri.
Teguh Santoso, Kepala Pabrik Aqua Tanggamus mengatakan, pendekatan ini membuka akses yang lebih setara terhadap keterampilan, pendidikan, serta kesempatan untuk berkembang bagi masyarakat sekitar pabrik.
Komposisi tersebut tidak tercipta secara instan. Pada tahun pertama operasional, perusahaan membuka berbagai pelatihan bagi warga sekitar yang sebagian besar sebelumnya berprofesi sebagai petani dan pekebun. Mereka diperkenalkan dengan dunia manufaktur, mulai dari dasar-dasar keselamatan kerja hingga keterampilan teknis di lini produksi.
“Bagi kami, membangun pabrik berarti juga membangun masyarakat di sekitarnya. Karena itu, sejak awal kami berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia lokal, dan hari ini mayoritas karyawan kami adalah putra-putri daerah yang tumbuh bersama perusahaan,” ujar Teguh Santoso dalam keterangan resminya, Senin, 17 Agustus 2026.
Kesempatan tersebut diberikan tanpa memandang latar belakang pendidikan maupun usia. Masyarakat yang telah berusia lebih matang tetap didampingi melalui berbagai pelatihan keterampilan teknis, seperti pengelasan (welding) dan kompetensi operasional lainnya — termasuk mereka yang sebelumnya belum pernah bekerja di sektor manufaktur. Angkatan pertama pekerja ini menjadi bukti nyata bagaimana akses terhadap pelatihan dapat membuka kesempatan baru, salah satunya bagi Yopanda.
Sebelum mengenal dunia industri, keseharian Yopanda banyak dihabiskan dengan bertani dan bekerja serabutan — hidup yang penghasilannya sangat bergantung pada cuaca dan musim panen, jauh dari kata pasti. Ketika pembangunan Pabrik Aqua Tanggamus berlangsung, ia turut bekerja dalam proyek konstruksi dan bergabung bersama tim engineering. Dari sanalah, untuk pertama kalinya, ia mengenal lebih dekat dunia kerja industri yang penuh keteraturan — sesuatu yang jauh berbeda dari kehidupannya sebagai petani.
Saat bekerja bersama tim engineering, Yopanda melihat rekan-rekannya menggunakan komputer dan laptop untuk bekerja. Ia yang saat itu belum memiliki ijazah setara SMA mulai memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan sekaligus mempelajari keterampilan baru.
Kesempatan datang ketika ia mendengar adanya program Paket C yang ditawarkan oleh perusahaan bagi masyarakat sekitar yang belum memiliki ijazah SMA. Yopanda menjadi salah satu dari sekitar 20 warga yang mengikuti program tersebut. Di tengah aktivitas bekerja, ia kembali belajar dua kali dalam seminggu hingga akhirnya memperoleh ijazah Paket C. Selain mengejar pendidikan formal, kesempatan mempelajari komputer menjadi salah satu motivasi terbesarnya.
“Saya lihat teman-teman di engineering bisa menggunakan komputer dan laptop. Dari situ saya tergerak, saya juga ingin bisa. Ketika ada program Paket C, saya ikut karena ingin mendapat ijazah sekaligus menambah pengetahuan,” kata Yopanda.

Kini Yopanda tidak hanya memperoleh ijazah setara SMA, tetapi juga terbiasa mengoperasikan komputer dalam pekerjaannya sehari-hari di lingkungan pabrik. Memasuki dunia industri menjadi perubahan besar bagi dirinya yang sebelumnya terbiasa bekerja sebagai petani. Jika dahulu ia dapat menentukan sendiri kapan mulai dan selesai bekerja, lingkungan industri memperkenalkannya pada disiplin waktu, prosedur kerja, serta budaya keselamatan.
| Baca juga: Monas Bergemerlap jelang HUT RI ke-81 |
Menurutnya, perubahan terbesar justru terjadi pada pola pikir. Ia belajar untuk lebih disiplin, memperhatikan keselamatan orang lain, serta memahami bahwa tanggung jawab merupakan bagian dari pekerjaan bersama. Kesadaran itu perlahan terbawa ke kehidupan sehari-hari, termasuk ketika ia kembali berkegiatan di kebun.
"Dulu ketika bekerja sebagai petani, kami tidak terlalu mengenal aturan keselamatan seperti di industri. Setelah bekerja di sini, kami jadi lebih peduli. Bahkan ketika sedang libur dan pergi ke kebun, tanpa sadar kebiasaan tentang keselamatan itu ikut kami terapkan,” ucapnya.
Dampak lain yang paling nyata adalah kemerdekaan dari sisi ekonomi. Kini ia memiliki pendapatan yang lebih stabil dan bisa direncanakan. Baginya, itulah bentuk kemerdekaan yang paling ia rasakan: tidak lagi cemas menghadapi musim paceklik.
Kini, dengan ijazah Paket C, keterampilan teknis, dan penghasilan yang lebih stabil, Yopanda menjalani hidup yang jauh lebih baik dari titik awalnya sebagai petani — merdeka dari ketidakpastian musim, merdeka dari keterbatasan pendidikan, dan merdeka untuk terus berkembang. Perjalanannya menggambarkan bagaimana keberadaan industri dapat membuka lebih dari sekadar kesempatan kerja: sebuah jalan menuju kemandirian bagi masyarakat sekitar.
Kemerdekaan yang dirasakan Yopanda bukan cerita tunggal. Komitmen untuk bertumbuh bersama masyarakat juga diwujudkan melalui program keberlanjutan yang berlandaskan filosofi lokal Begawi Jejama — bekerja bersama dan bergotong royong — sehingga manfaat kemerdekaan ekonomi dan lingkungan dapat dirasakan lebih luas, tidak hanya oleh mereka yang bekerja langsung di pabrik.
Di wilayah hulu Pegunungan Tanggamus, perusahaan bersama masyarakat telah menanam lebih dari 11.000 pohon serta membangun sekitar 700 rorak atau lubang resapan air sejak 2016 hingga 2026. Upaya ini memperkuat daerah tangkapan air, mengurangi risiko erosi, dan membantu menjaga kelestarian sumber daya air, sekaligus berjalan beriringan dengan pendampingan kepada petani kopi agar dapat meningkatkan produktivitas melalui praktik budidaya yang ramah lingkungan.
Sementara itu, di wilayah hilir, perusahaan mengembangkan Taman Kehati Galih Batin seluas sekitar 3,2 hektare sebagai ruang terbuka hijau sekaligus pusat edukasi lingkungan. Berdasarkan penelitian bersama Universitas Lampung pada 2025, kawasan ini memiliki indeks keanekaragaman hayati sebesar 3,16 yang tergolong tinggi, dengan sedikitnya enam spesies tanaman endemik dan 22 jenis burung yang telah teridentifikasi.
Melalui program Water, Sanitation, and Hygiene (WASH), Pabrik Aqua Tanggamus mendukung peningkatan akses masyarakat terhadap air bersih dan sanitasi yang layak. Hingga saat ini, program tersebut telah memberikan manfaat kepada 1.037 warga melalui penyediaan 203 sambungan akses air bersih yang terhubung langsung ke rumah-rumah warga, sehingga masyarakat dapat memperoleh air bersih dengan lebih mudah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Komitmen terhadap keberlanjutan juga diwujudkan melalui program pengelolaan sampah “Sampahku Tanggung Jawabku” yang sejak dimulai hingga 2026 telah mengelola sekitar 378 ton sampah plastik, serta berbagai program pemberdayaan masyarakat.
Bagi Teguh, momentum Hari Kemerdekaan menjadi pengingat bahwa kemajuan Indonesia juga dibangun dari masyarakat yang merdeka untuk terus berkembang dan semakin mandiri. Di Tanggamus, semangat itu diwujudkan melalui kolaborasi antara perusahaan, masyarakat, dan pemerintah daerah, agar kisah-kisah kemerdekaan ekonomi serupa dapat terus tumbuh dan dirasakan bersama.
"Bagi kami, semangat kemerdekaan hari ini adalah tentang membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat untuk hidup dengan kualitas yang lebih baik dan mendorong setiap individu dapat menjadi versi terbaik mereka. Kisah Yopanda adalah salah satu contohnya, dan kami ingin Pabrik Awu Tanggamus terus menjadi bagian dari perjalanan itu,” ujar Teguh.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....