Kemarau Belum Usai, Puluhan Ribu Warga Bekasi Terdampak Krisis Air Bersih

  • 03 Agt 2026 15:24 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Puncak Kemarau Diprediksi Hingga September, Bekasi Tetap Siaga Kekeringan
  • Kemarau Diperkirakan Berlanjut, Bekasi Waspadai Dampak Kekeringan
  • Bendungan Hulu Dinilai Jadi Solusi Jangka Panjang Atasi Kekeringan di Bekasi

RRI.CO.ID, Jakarta - Jeriken, ember, hingga toren menjadi benda yang paling dinanti warga di sejumlah wilayah Kabupaten Bekasi selama musim kemarau tahun ini. Saat hujan tak kunjung turun, bantuan air bersih dari pemerintah menjadi harapan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di tengah kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi memastikan status kekeringan masih berada pada level siaga darurat. Meski dampaknya terus meluas, peningkatan status menjadi tanggap darurat masih menunggu perkembangan kondisi di lapangan serta prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi, mengatakan pemerintah daerah terus memantau situasi karena puncak musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga September 2026. Bahkan, pengaruh fenomena El Nino berpotensi membuat musim kering berlangsung lebih lama.

"Status masih siaga darurat. Peningkatan menjadi tanggap darurat akan melihat perkembangan kondisi di lapangan dan prediksi BMKG," ujar Dodi, melalui siaran pers, Senin, 3 Agustus 2026.

Data BPBD hingga 29 Juli 2026 menunjukkan, kekeringan telah berdampak pada 12.407 kepala keluarga atau sekitar 37.972 jiwa yang mengalami krisis air bersih. Tak hanya itu, 3.002 hektare lahan pertanian di 15 kecamatan dan 52 desa juga terdampak, sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi para petani di musim tanam.

Kekeringan Meluas di Bekasi, Distribusi Air Bersih Terus Digencarkan

Untuk membantu masyarakat, BPBD bersama pemerintah daerah terus menyalurkan bantuan air bersih. Hingga akhir Juli, lebih dari 3 juta liter air bersih, tepatnya 3.067.300 liter, telah didistribusikan ke wilayah-wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan air.

Wilayah yang menjadi prioritas penanganan meliputi Kecamatan Cibarusah, Serang Baru, Bojongmangu, Cikarang Selatan, Pebayuran, Sukatani, Cabangbungin, Babelan, dan Tarumajaya. Distribusi dilakukan secara bertahap agar kebutuhan warga tetap dapat terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.

Di balik upaya penanganan jangka pendek, BPBD juga menaruh harapan besar pada penyelesaian pembangunan bendungan di wilayah hulu. Menurut Dodi, infrastruktur tersebut akan menjadi solusi penting agar air hujan dapat ditampung saat musim penghujan dan dimanfaatkan ketika kemarau tiba.

"Kami berharap pembangunan bendungan di wilayah hulu segera selesai, sehingga air hujan bisa ditampung saat musim hujan dan dimanfaatkan sepenuhnya pada musim kemarau," katanya.

Sementara itu, masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak dan tidak berlebihan. Dengan puncak kemarau yang diperkirakan masih berlangsung beberapa pekan ke depan, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dinilai menjadi kunci untuk menghadapi dampak kekeringan yang masih membayangi Kabupaten Bekasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....