Pelaku Usaha Makanan Hadapi Gejolak Harga Cabai di Jakarta
- 12 Sep 2026 00:57 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Sejumlah pelaku usaha makanan di Jakarta memilih menahan kenaikan harga jual di tengah gejolak harga cabai. Mereka khawatir kenaikan harga makanan justru membuat pelanggan beralih dan berdampak terhadap omzet penjualan.
Salah satunya Titi Sugianti, pemilik warung sate yang ditemui saat berbelanja di Pasar Induk Kramat Jati, Jumat 11 September 2026. Ia biasa berbelanja berbagai bahan pangan setiap tiga hari sekali dengan pembelian cabai paling sedikit 10 kilogram per jenis.
Titi mengatakan kenaikan harga cabai membuat biaya bahan baku restorannya bertambah, sementara kebutuhan cabai untuk setiap masakan tidak dapat dikurangi. Meski demikian, ia memilih mempertahankan harga jual makanan untuk menjaga pelanggan.

"Kan biaya cabainya pasti sudah lebih mahal, sedangkan kebutuhan kita untuk masak dengan cabainya pasti standarnya masih segitu yang kita pakai. Jadi cost pengeluaran akan lebih besar, sedangkan harga jual kita di resto harganya sama," kata Titi.
Kenaikan biaya tersebut harus ditanggung pelaku usaha karena Titi tidak ingin mengurangi jumlah cabai yang digunakan dalam masakan. Menurutnya, pengurangan bahan baku dapat mengubah rasa dan kualitas makanan yang sudah memiliki standar tertentu.
"Kalau siasat biasanya kalau lagi tinggi banget sampai ratusan, kita mengakalinya diganti dengan cabai hijau. Cabai rawitnya cabai rawit hijau, karena cost-nya tidak menutup," ujar Titi.

Kondisi serupa dirasakan Mery, pemilik warung nasi nasi padang di kawaswan Jakarta Selatan, yang berbelanja kebutuhan usahanya seminggu sekali. Dalam sekali belanja, ia dapat membeli sekitar 30-40 kilogram cabai hijau dan 15 kilogram cabai merah.
"Kalau dikurangi enggak mungkin. Kadang orang kalau beli nasi padang kan, ‘Lagi dong sambalnya,’ tetap dikasih. Jadi ya sudah, jalanin saja kayak gitu," kata Mery saat ditemui di pasar yang sama, Jumat 11 September 2026.
Mary mengatakan cabai merah keriting yang biasa dibelinya seharga kisaran Rp30 ribu per kilogram kini mencapai kisaran Rp38 ribu, sedangkan cabai hijau petikan naik dari Rp20 ribu hingga Rp25 ribu menjadi kisaran Rp30 ribu per kilogram.

"Enggak dinaikkan harganya. Kalau dinaikin orang nanti malah kabur. Soalnya sekarang kan ekonomi susah, jadi kalau dinaikin ya orang enggak mampu beli," ujar Mery.
Menukil data Info Pangan Jakarta, harga komoditas cabai di Pasar Induk Kramat Jati menunjukkan pergerakan yang cukup lebar sejak Agustus hingga 11 September 2026.
Cabai rawit merah pada Agustus bergerak antara Rp34 ribu hingga Rp55 ribu per kilogram, sedangkan pada 1-11 September berada pada kisaran Rp53 ribu hingga Rp64 ribu per kilogram.
Cabai merah keriting pada Agustus tercatat antara Rp19 ribu hingga Rp32 ribu per kilogram dan pada 1-11 September berada di kisaran Rp25 ribu hingga Rp36 ribu per kilogram.

Pada Agustus cabai rawit hijau bergerak dari Rp31 ribu hingga Rp36 ribu, sedangkan pada 1-11 September berada di kisaran Rp33 ribu hingga Rp38 ribu per kilogram.
Sebelumnya diberitakan RRI.CO.ID, gejolak harga ini diduga berasal dari dampak musim kemarau terhadap produksi cabai. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok mengatakan kekurangan air dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan meningkatkan risiko serangan hama.
Selain faktor cuaca, luas tanam cabai rawit merah pada Februari-Juli 2026 tercatat turun 14 persen sehingga berdampak terhadap produksi periode Agustus-Desember 2026.
"Hal tersebut berimbas pada pasokan cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati pada minggu kelima Agustus 2026 yang turun 10,4 persen, dari 144 ton menjadi 129 ton," kata Hasudungan pada Selasa, 8 September 2026.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....