Penataan Kawasan Gambir Dorong Pengurangan Sampah lewat Penghijauan

  • 13 Jul 2026 17:23 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Kelurahan Gambir menata kawasan bantaran Kali Ciliwung RW 01 dengan program penghijauan dan pengelolaan sampah terpadu dimulai Triwulan II 2026.
  • Kelurahan Gambir telah mencapai pengurangan sampah tertinggi di Jakarta Pusat melebihi 50 persen melalui komposting, budidaya maggot, pembibitan ikan, dan bank sampah.
  • Bank sampah dengan 90 nasabah berhasil mengumpulkan tabungan sampah anorganik senilai Rp46 juta sepanjang tahun ini dengan rata-rata hasil penjualan lebih dari Rp1 juta per penimbangan.

RRI.CO.ID, Jakarta – Kelurahan Gambir, Jakarta Pusat, menata kawasan bantaran Kali Ciliwung di RW 01 pada Triwulan II Tahun 2026 dengan mengedepankan penghijauan dan pengelolaan sampah terpadu. Program ini memanfaatkan lahan yang sebelumnya terbengkalai menjadi area produktif untuk mendukung pengurangan sampah di tingkat wilayah.

Lurah Gambir Rokhmat mengatakan, lahan yang tersedia dimanfaatkan secara maksimal untuk kegiatan penghijauan, komposting, budidaya maggot, pembibitan ikan, bank sampah, serta penanaman cabai dan tanaman obat keluarga (TOGA). Menurutnya, hasil budidaya ikan juga dipasarkan kepada warga sekitar yang antusias membeli hasil panen.

"Karena lahannya terbatas, kami manfaatkan semaksimal mungkin agar penghijauan dan pengelolaan serta pemilahan sampah bisa berjalan dengan baik. Di kawasan tersebut juga ditanam berbagai tanaman produktif, seperti cabai dan tanaman obat keluarga (TOGA). Sementara hasil budidaya ikan dipasarkan kepada warga sekitar yang selama ini cukup antusias membeli hasil panen," ujar Rokhmat.

Ia menjelaskan, Kelurahan Gambir menjadi salah satu wilayah dengan capaian pengurangan sampah tertinggi di Jakarta Pusat karena telah melampaui 50 persen. Capaian tersebut diharapkan dapat mendukung target Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengurangi pengiriman sampah ke TPST Bantargebang mulai Agustus 2026 hingga menghentikan pengiriman sampah yang masih bisa dikelola dari sumbernya pada Januari 2027.

"Ini menjadi tantangan bagi kami untuk terus meningkatkan pemilahan sampah. Jika nanti tersedia alat pencacah yang lebih memadai, pengelolaan sampah tentu bisa lebih optimal," katanya.

Selain mengolah sampah organik menjadi kompos, kawasan tersebut juga mengembangkan budidaya maggot untuk mengurai limbah organik rumah tangga. Maggot yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ikan sehingga menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Ketua RW 01 Gambir Novrizal mengatakan, pengelolaan kawasan dilakukan secara kolaboratif bersama kader PKK dan didukung petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU). Kawasan yang sebelumnya menjadi tempat pembuangan sampah terbuka kini berubah menjadi ruang hijau yang lebih bersih dan produktif.

"Pengelolaan kawasan ini tidak mungkin dilakukan sendiri. Kami melibatkan PKK RW dan didukung PPSU agar program dapat berjalan secara berkelanjutan," ujarnya.

Novrizal menambahkan, warga juga mengolah sampah organik menjadi eco enzyme, fruit enzyme, kompos, serta memanfaatkan sisa makanan sebagai pakan maggot. Sementara itu, bank sampah yang melibatkan sekitar 90 nasabah berhasil membukukan tabungan sampah anorganik sekitar Rp46 juta sepanjang tahun ini.

"Dalam sekali penimbangan, hasil penjualan sampah anorganik rata-rata di atas Rp1 juta. Sepanjang tahun ini, nilai tabungan sampah anorganik warga mencapai sekitar Rp46 juta. Banyak yang mengira itu THR dari RW, padahal merupakan hasil tabungan sampah yang dikumpulkan sendiri oleh warga selama setahun," tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....