Sudinkes Jakbar Catat Kasus DBD di Jakarta Barat Turun Signifikan
- 06 Jun 2026 16:26 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Barat mencatat tren kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Jakarta Barat mengalami penurunan dalam tiga bulan terakhir.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat, Sahruna, mengatakan jumlah kasus DBD pada April 2026 tercatat sebanyak 335 kasus. Angka tersebut kemudian turun menjadi 197 kasus pada Mei 2026.
“Per 4 Juni 2026 pukul 09.00 WIB, baru tercatat satu kasus DBD. Tren dalam tiga bulan terakhir memang menunjukkan penurunan yang cukup baik,” kata Sahruna saat dikonfirmasi, Sabtu, 6 Juni 2026.
Meski angka kasus menunjukkan tren positif, Sahruna mengingatkan bahwa masyarakat tidak boleh lengah.
Pasalnya, berdasarkan prediksi iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi lingkungan saat ini masih berada pada kategori yang ideal bagi siklus hidup nyamuk Aedes aegypti.
Menurutnya, tingkat kelembaban udara pada Juni 2026 diperkirakan mencapai rata-rata 80 persen. Angka tersebut berada dalam rentang kelembaban optimum bagi pertumbuhan nyamuk, yakni antara 71 hingga 83 persen.
Selain itu, suhu udara di Jakarta Barat diprediksi berkisar antara 24 hingga 31 derajat Celsius, mendekati suhu ideal perkembangan nyamuk penular DBD yang berada pada kisaran 25 hingga 27 derajat Celsius.
“Penurunan kasus tidak boleh membuat kita abai, karena faktor cuaca masih sangat mendukung perkembangan nyamuk penyebab DBD,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi peningkatan kasus, seluruh puskesmas di Jakarta Barat terus melakukan pemantauan berkala terhadap angka kejadian DBD serta kecepatan penyebarannya di masyarakat.
Sudinkes Jakarta Barat juga terus melakukan berbagai upaya pencegahan, mulai dari Penyelidikan Epidemiologi (PE) hingga penguatan Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui metode 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Sahruna menegaskan, keberhasilan pengendalian DBD tidak hanya bergantung pada petugas kesehatan, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat dalam memantau keberadaan jentik nyamuk di lingkungan rumah masing-masing.
“Kami terus mendorong masyarakat untuk berperan sebagai Juru Pemantau Jentik (Jumantik) mandiri dan meningkatkan kesadaran akan bahaya DBD melalui penerapan PSN secara rutin,” katanya
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....