Jakarta Siaga Hadapi Risiko Kekeringan di Musim Kemarau

  • 14 Apr 2026 18:37 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - DKI Jakarta kini bersiaga menghadapi risiko kekeringan di tengah datangnya musim kemarau. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang terjadi belakangan ini.

Perubahan cuaca di wilayah Jakarta mulai terasa sejak April 2026, ditandai dengan suhu panas pada siang hari dan potensi hujan ekstrem di sore hingga malam hari. Kondisi ini menjadi indikator awal peralihan menuju musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September mendatang.

Ketua Subkelompok Logistik dan Peralatan BPBD DKI Jakarta, Michael Sitanggang, menjelaskan bahwa perubahan iklim global turut memengaruhi pola musim di ibu kota. Ia menyebutkan bahwa kondisi cuaca saat ini menjadi lebih ekstrem dibandingkan pola musim sebelumnya.

“Menurut informasi dari BMKG, wilayah Jakarta sudah mulai masuk ke dalam awal musim kemarau, sehingga ada potensi risiko bencana kekeringan,” ujar Michael dalam wawancara bersama Pro 1, Selasa (14 April 2026).

Selain risiko kekeringan, masyarakat juga diminta mewaspadai dampak lain seperti peningkatan suhu udara dan potensi gangguan kesehatan. Kurangnya asupan cairan serta paparan panas berlebih dapat memicu berbagai penyakit, terutama bagi masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.

Michael juga menyoroti potensi peningkatan polusi udara selama musim kemarau yang kerap terjadi di Jakarta. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk menjaga kondisi tubuh serta mengurangi aktivitas luar ruangan saat kondisi udara tidak sehat.

Di sisi lain, wilayah yang belum terlayani jaringan air bersih menjadi perhatian utama dalam menghadapi musim kemarau. Warga yang masih mengandalkan air tanah diminta untuk mulai mengantisipasi kemungkinan berkurangnya pasokan air di bulan-bulan mendatang.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BPBD DKI Jakarta telah menyiapkan berbagai kebutuhan logistik, baik pangan maupun non-pangan. Selain itu, disiapkan pula tenda pengungsian, tenda posko, serta berbagai paket bantuan bagi warga terdampak.

“Biasanya di musim kemarau ini tidak hanya kekeringan, tetapi juga peningkatan kejadian kebakaran akibat kondisi lingkungan yang kering,” kata Michael.

Ia menambahkan bahwa faktor kelalaian manusia seperti korsleting listrik dan penggunaan gas rumah tangga juga menjadi pemicu utama kebakaran. Dalam menghadapi potensi krisis air bersih, BPBD juga menyiapkan mobil tangki air di setiap wilayah kota administrasi.

“Masyarakat tidak perlu panik, tetapi harus mulai mempersiapkan diri sejak sekarang, baik untuk diri sendiri maupun lingkungannya,” pungkas Michael.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....