Optimalkan Peran Masjid dan RT/RW Jangkau Pekerja Informal
- 26 Mar 2026 21:11 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Jakarta Gambir, Imam Santoso menyampaikan bahwa masjid dan RT/RW memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat, sehingga dinilai efektif sebagai mitra sosialisasi dan edukasi.
“Masjid dan RT/RW merupakan pusat aktivitas masyarakat. Melalui kolaborasi ini, kami ingin memastikan informasi terkait manfaat program BPJS Ketenagakerjaan dapat tersampaikan secara luas dan tepat sasaran,” ujarnya, secara tertulis, Kamis 26 Meret 2026.
Melalui pendekatan ini, katanya, BPJS Ketenagakerjaan tidak hanya melakukan sosialisasi, tetapi juga membuka layanan pendaftaran langsung di lingkungan masyarakat, termasuk setelah kegiatan keagamaan maupun pertemuan warga.
Selain itu, pengurus RT/RW diharapkan dapat berperan aktif dalam mendata warganya yang bekerja di sektor informal dan mendorong mereka untuk menjadi peserta. Dengan iuran yang relatif terjangkau, pekerja informal sudah dapat memperoleh perlindungan terhadap risiko kecelakaan kerja hingga kematian.
“Program ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan inklusi jaminan sosial nasional, sehingga seluruh pekerja, tanpa terkecuali, memiliki perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja dan keluarganya,” ujarnya.
Seperti diberitakan, komitmen tersebut ditunjukkan melalui kegiatan penyerahan simbolis kartu kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan kepada para pekerja informal di lingkungan Perumahan Eramas 2000, Jakarta Timur, yang dilakukan langsung oleh Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Saiful Hidayat, sekaligus penyerahan santunan Jaminan Kematian (JKM) kepada tiga orang ahli waris peserta yang meninggal dunia.
“Melalui kegiatan ini kami ingin memastikan bahwa layanan jaminan sosial ketenagakerjaan tidak hanya tersedia di kantor layanan, tetapi juga hadir langsung di tengah masyarakat melalui pendekatan jemput bola agar semakin banyak pekerja dapat terlindungi,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan komunitas menjadi strategi penting karena banyak pekerja informal berada sangat dekat dengan lingkungan sosial seperti tetangga, pedagang, pengurus lingkungan, maupun komunitas masyarakat lainnya.
“Seringkali tanpa kita sadari, orang-orang di sekitar kita ternyata masih rentan dan belum terlindungi oleh program jaminan sosial ketenagakerjaan. Karena itu perlindungan pekerja bisa dimulai dari lingkungan terdekat dengan saling mengingatkan dan mengajak agar semakin banyak pekerja ikut terlindungi,” katanya.
Adapun santunan yang diberikan merupakan santunan Jaminan Kematian masing-masing sebesar Rp42 juta kepada ahli waris dari Almarhum Drs. Suswoyo dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kecamatan Duren Sawit, Almarhum Hadi Alamsyah pengurus RT/RW Kelurahan Pondok Kelapa, serta Almarhumah Ratna, seorang pedagang.
Saiful, juga mengajak para pekerja untuk memanfaatkan kebijakan pemerintah yang memberikan keringanan iuran bagi peserta bukan penerima upah.
“Pemerintah telah memberikan keringanan iuran sebesar 50 persen untuk program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian bagi peserta BPU melalui PP Nomor 50 Tahun 2025. Momentum ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh para pekerja untuk memperoleh perlindungan dengan iuran yang terjangkau namun manfaatnya sangat besar,” ujarnya.
Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Kota Jakarta Timur, Fauzi, mengapresiasi langkah BPJS Ketenagakerjaan yang menggandeng komunitas masyarakat sebagai pintu masuk memperluas perlindungan bagi pekerja.
“Pemerintah Jakarta Timur memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan masyarakatnya lebih terlindungi di masa depan. Kami mengapresiasi pendekatan BPJS Ketenagakerjaan melalui komunitas seperti masjid dan lingkungan RT/RW. Semoga kolaborasi ini terus diperluas sehingga semakin banyak pekerja yang terlindungi dan kesejahteraan masyarakat dapat meningkat dan dapat menjadi role model untuk wilayah lain,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....