Pengangguran Jakarta Naik, Meski Penduduk Bekerja Bertambah

  • 06 Feb 2026 11:09 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Pusat Statistik mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) DKI Jakarta pada November 2025 naik menjadi 6,31 persen, meski jumlah penduduk bekerja meningkat. Kenaikan ini terjadi di tengah pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan di Jakarta.

Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, setelah acara rilis Berita Resmi Statistik di Salemba, Jakarta Pusat, pada Kamis 5 Februari 2026 menjelaskan bahwa kenaikan pengangguran berkaitan dengan bertambahnya jumlah angkatan kerja yang belum sepenuhnya terserap pasar kerja. Peningkatan angkatan kerja tersebut berasal dari kelompok yang sebelumnya berada di luar pasar kerja.

“Yang sebetulnya terjadi penurunan itu adalah pada pekerja paruh waktu dan pekerja bebas. Tetapi angkatan kerja naik karena yang tadinya bukan angkatan kerja sekarang masuk,” ujar Kadarmanto.

Peningkatan angkatan kerja terutama berasal dari perempuan yang sebelumnya berstatus sebagai ibu rumah tangga. “Ada kecenderungan ibu rumah tangga sekarang mulai masuk ke pasar kerja untuk membantu ekonomi keluarga, sehingga sementara tercatat sebagai pengangguran,” kata Kadarmanto.

Sejalan dengan itu, BPS mencatat Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan di DKI Jakarta meningkat dari 49 persen menjadi 52 persen. Pada periode yang sama, TPAK laki-laki tercatat sedikit menurun.

BPS juga mencatat TPT DKI Jakarta pada November 2025 sebesar 6,31 persen, meningkat dibandingkan Agustus 2025 yang tercatat sebesar 6,05 persen.

Adapun jumlah penganggur di DKI Jakarta pada November 2025 tercatat sebanyak 349 ribu orang. Sementara jumlah penduduk bekerja di Jakarta pada November 2025 tercatat sebanyak 5,18 juta orang. Angka tersebut meningkat sekitar 49 ribu orang dibandingkan Agustus 2025.

BPS juga mencatat jumlah penduduk usia kerja di DKI Jakarta mencapai 8,44 juta orang, dengan angkatan kerja sebanyak 5,53 juta orang. Dari sisi jenis kelamin, TPT laki-laki tercatat sebesar 6,9 persen, lebih tinggi dibandingkan perempuan yang sebesar 5,43 persen.

Dilihat dari lapangan usaha, sektor Perdagangan Besar dan Eceran masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan kontribusi 23,22 persen. Sektor ini diikuti Akomodasi dan Makan Minum sebesar 13,29 persen serta Transportasi dan Pergudangan sebesar 11,92 persen.

Proporsi pekerja formal di Jakarta meningkat menjadi 63,43 persen, dengan mayoritas penduduk bekerja berstatus sebagai buruh atau karyawan sebesar 60,14 persen. Dari sisi pendidikan, penduduk bekerja didominasi lulusan SMA dan SMK.

Dilihat dari jam kerja, proporsi pekerja penuh atau bekerja minimal 35 jam per minggu tercatat sebesar 81,47 persen. Namun, BPS mencatat terjadinya penurunan proporsi pekerja penuh yang menunjukkan pergeseran ke kategori pekerja tidak penuh.

Penurunan tersebut menunjukkan adanya pergeseran ke kategori pekerja tidak penuh, yang mencakup pekerja paruh waktu dan setengah penganggur. Data ini menjadi bagian dari gambaran kondisi ketenagakerjaan DKI Jakarta pada November 2025.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....