Gaji Tak Cukup, Guru Honorer Terpaksa Ngojek usai Mengajar

  • 05 Feb 2026 14:58 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Seorang guru honorer di sekolah dasar (SD) swasta wilayah Jakarta Barat, berinisial MA terpaksa bekerja sambilan sebagai pengemudi ojek daring hingga berjualan nasi goreng untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 

Kepada RRI Jakarta MA menuturkan, kondisi itu ia jalani di tengah pengabdian panjangnya sebagai pendidik selama 12 tahun lamanya.

“Kalau saya mengabdi di sekolah swasta total sudah 12 tahun. Terdaftar di Dapodik sekitar lima tahun, sejak 2021 mengajar di SD tempat sekarang,” ujar MA saat ditemui di Jakarta, beberapa waktu lalu dan dikutip pada, Kamis, 5 Februari 2026.

Ia menjelaskan, sekolah tempatnya mengajar berada di kawasan permukiman padat penduduk dan melayani anak-anak dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. 

Kondisi itu membuat pendanaan sekolah sangat bergantung pada pembayaran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) dari orang tua murid.

“Kita operasional tergantung pada SPP, dan kebetulan kita kan mengajar di sekolah yang bisa dibilang ekonominya menengah ke bawah dan perlu perhatian,” kata MA.

Menurutnya, hanya sekitar 60 persen wali murid yang mampu membayar SPP secara penuh setiap bulan. Dampaknya, anggaran untuk menggaji guru menjadi terbatas.

“Yang kami terima ya menyesuaikan SPP yang terkumpul. Kurang lebih sekitar Rp700 ribu per bulan,” ujarnya.

Selain mengandalkan SPP, sekolah juga mendapat bantuan pemerintah melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan program Kartu Jakarta Pintar (KJP). Namun, pencairan bantuan yang tidak selalu rutin membuat penggajian guru kadang tertunda.

“Kadang ada guru yang harus menunggu pencairan KJP sampai tiga bulan. Itu yang kemudian dipakai untuk menutup gaji yang tertunda,” jelasnya.

Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, MA terpaksa bekerja sebagai pengemudi ojek daring sepulang mengajar. Ia biasanya mengambil pesanan yang searah perjalanan pulang ke rumah di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan.

“Biasanya jam 11.30 siang selesai mengajar saya aktifkan aplikasi. Ambil orderan satu arah pulang, seringnya antar paket,” katanya.

Dari pekerjaan tersebut, MA memperoleh tambahan penghasilan sekitar Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per hari, yang digunakan untuk biaya makan dan kebutuhan harian.

Namun, tekanan ekonomi membuatnya harus menjual sepeda motor yang selama ini digunakan untuk bekerja. Kini, ia beralih menjalankan usaha berjualan nasi goreng pada malam hari sebagai sumber pendapatan tambahan.

“Motor terpaksa dijual karena kebutuhan ekonomi. Sekarang sore belanja bahan, malam jualan nasi goreng untuk tambahan penghasilan,” ujarnya.

MA mengaku tetap bertahan menjadi guru karena merasa memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan anak-anak di lingkungannya. Sekolah tempatnya mengajar, kata dia, berdiri dari inisiatif masyarakat agar anak-anak di kawasan padat penduduk tetap bisa bersekolah.

“Sekolah di lingkungan padat itu harapan masyarakat supaya anak-anak tetap bisa belajar,” katanya.

Ia menilai, sekolah swasta kecil sebenarnya memiliki kontribusi besar dalam pemerataan pendidikan, terutama di kawasan padat penduduk. 

Dia pun meminta agar pemerintah dapat memperkuat perhatian terhadap sekolah swasta yang dinilai melayani masyarakat berpenghasilan rendah.

“Anak-anak yang kami tangani sama dengan yang di sekolah negeri. Mereka juga butuh pendidikan yang layak. Harapannya ada kesetaraan perhatian, baik dari sisi kebijakan, bantuan, maupun kesejahteraan guru,” tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....