Jejak Bencana Masa Lalu di Cirebon dan Kuningan

  • 03 Feb 2026 20:24 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID - Jakarta - Wilayah kaki Gunung Ciremai hingga pesisir Cirebon ternyata menyimpan memori kelam berupa rentetan bencana yang terekam dalam sejarah. 

Di balik panorama indahnya, kawasan ini memiliki risiko guncangan dan tanah longsor karena posisinya sebagai "menara air" alami. Catatan kolonial Belanda menunjukkan bahwa eksploitasi hutan jati yang serakah di masa lalu pernah memicu banjir besar hingga wabah pes yang mematikan.

Narasumber utama, Dr. Tendi dari UIN Siber Cirebon, menyoroti betapa pentingnya membuka kembali arsip lama untuk memahami pola alam saat ini. "Fenomena alam ini bukan sekadar takdir, tetapi ada jejak tangan manusia melalui eksploitasi hutan atau ontbossing yang terekam jelas dalam dokumen sejarah," ungkapnya. Menurutnya, kesadaran akan sejarah bencana dapat menjadi fondasi kuat bagi mitigasi masyarakat modern.

Senada dengan itu, Dr. Imas Emalia dari UIN Jakarta menekankan bahwa bencana masa lalu adalah cermin untuk masa depan. Beliau menjelaskan bahwa kelaparan hebat dan wabah yang pernah melanda Cirebon bukan sekadar cerita pengantar tidur, melainkan peringatan nyata. "Kita perlu membongkar memori yang luput ini agar masyarakat tidak kehilangan kewaspadaan terhadap potensi risiko di lingkungan sekitar," tambahnya.

Diskusi mendalam mengenai sejarah kelam ini akan dikupas tuntas dalam webinar nasional bertajuk "Bencana dalam Catatan Sejarah". Acara ini dipandu oleh Ipik Ernaka, M.Hum dari MAN IC Serpong, yang akan mengarahkan alur obrolan menjadi lebih cair dan mudah dipahami. Fokus utamanya adalah membedah data sejarah yang selama ini jarang tersentuh oleh diskusi di ruang publik.

Webinar yang diinisiasi oleh Abnasari Dhou Center Kuningan ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 7 Februari 2026. Kegiatan ini bersifat terbuka untuk umum dan bertujuan memberikan edukasi berbasis data historis kepada masyarakat luas. Melalui pendekatan ini, diharapkan pemahaman publik mengenai kebencanaan tidak hanya sebatas teori, tetapi juga berdasarkan realita sejarah.

Penyelenggara menyediakan fasilitas berupa materi literatur sejarah dan e-sertifikat bagi para peserta yang ingin mendalami topik ini lebih jauh. Masyarakat dapat bergabung secara daring melalui platform Zoom atau menyaksikan siaran langsung di kanal YouTube resmi lembaga tersebut. Informasi pendaftaran telah dibuka secara luas guna menjangkau khalayak yang peduli terhadap kelestarian lingkungan dan sejarah.

Langkah ini menjadi pengingat bahwa memahami sejarah adalah cara terbaik untuk bersahabat dengan alam di masa depan. Mitigasi yang efektif dimulai dari pengetahuan yang memadai tentang apa yang pernah terjadi di tanah yang kita pijak. Dengan begitu, "bom waktu" sejarah tidak perlu meledak kembali menjadi duka yang serupa bagi generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....