Ramadan, Ujian Rindu dan Jalan menuju Islam yang Menenangkan

  • 27 Feb 2026 11:11 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Ramadan selalu datang dengan gegap gempita kerinduan. Ucapan selamat menyambut bulan suci, doa-doa, serta berbagai unggahan penuh suka cita menghiasi ruang-ruang publik. Namun di balik semarak itu, Kepala Madrasah Tsanawiyah Istiqlal, Ustaz Syahril Sidik, mengajak umat Islam untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: apa kabar hati kita hari ini?

Hal itu ia sampaikan dalam wawancara program Syiar Ramadan di radio 91,2FM Pro 1 RRI Jakarta, dengan tema “Ramadan dan Moderasi Beragama: Islam yang Menenangkan dan Mencerahkan.” Dalam perbincangan tersebut, Ustaz Syahril menekankan bahwa Ramadan bukan sekadar bulan yang ditunggu, melainkan momentum pembuktian atas rasa rindu yang pernah diucapkan.

“Kalau benar rindu itu ada, kalau benar bahagia itu benar-benar ada, harusnya kita sibuk membersamai diri kita dengan Ramadan,” ujarnya.

Menurutnya, banyak orang yang sebelum Ramadan mengaku merindukan bulan suci dan menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah apakah rasa itu benar-benar terwujud dalam sikap dan kesungguhan beribadah. Memasuki pertengahan hingga akhir Ramadan, kata dia, menjadi fase penentu. Di sanalah akan terlihat apakah kerinduan itu tulus atau hanya euforia sesaat.

Jika hari-hari Ramadan justru lebih dipenuhi kesibukan yang menjauhkan dari nilai-nilai spiritual, maka perlu ada evaluasi. Ia bahkan menyebut kemungkinan adanya “rindu palsu” dan kebahagiaan yang sekadar formalitas jika tidak diiringi komitmen memperbaiki diri.

Dalam pemaparannya, Ustaz Syahril juga menyinggung peristiwa Isra Mikraj. Ia mengisahkan perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, di mana Nabi Muhammad Saw mengimami para nabi dan rasul. Salah satu pelajaran yang menggetarkan, menurutnya, adalah adanya keinginan para nabi dan rasul untuk merasakan nikmatnya Ramadan, bulan yang justru menjadi anugerah bagi umat Nabi Muhammad Saw.

“Bayangkan, para nabi dan rasul ingin merasakan Ramadan, sementara kita yang diberi kesempatan setiap tahun justru terkadang menyia-nyiakannya,” ucapya.

Ia kemudian mengingatkan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 yang ditutup dengan kalimat la’allakum tattaqun, agar kamu menjadi orang yang bertakwa.

Menurut Ustaz Syahril, takwa tidak hanya dimaknai sebagai ketaatan ritual semata. Ketakwaan juga tercermin dalam kualitas hubungan sosial. Orang yang bertakwa adalah mereka yang mampu menjaga lisan, menahan amarah, bersikap adil, dan menghadirkan ketenangan bagi lingkungan sekitarnya.

Dalam konteks itulah ia menekankan pentingnya moderasi beragama. Ramadan, katanya, merupakan madrasah spiritual yang melatih umat Islam untuk bersikap seimbang, tidak berlebihan, dan tidak ekstrem. Moderasi beragama bukan berarti mengurangi keyakinan, melainkan menghadirkan cara pandang yang arif, bijak, dan penuh kedamaian.

“Islam yang menenangkan dan mencerahkan itu lahir dari pribadi-pribadi yang bertakwa dan mampu menjaga hubungan baik dengan sesama,” kata ustaz Syahril menjelaskan.

Ia berharap Ramadan tidak berhenti sebagai seremoni tahunan yang semarak di awal, tetapi meredup di akhir. Lebih dari itu, Ramadan harus menjadi perjalanan transformasi, dari sekadar menahan lapar dan dahaga menuju pembentukan karakter yang matang secara spiritual dan sosial.

Melalui program Syiar Ramadan tersebut, Ustaz Syahril mengajak umat Islam menjadikan bulan suci sebagai momentum memperkuat ketakwaan sekaligus meneguhkan komitmen pada moderasi beragama. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan Ramadan bukan terletak pada seberapa meriah penyambutannya, melainkan pada seberapa besar perubahan yang dirasakan dalam diri dan tercermin dalam sikap sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....