Puasa Mengajarkan Harmoni dengan Allah, Manusia, dan Alam
- 02 Mar 2026 13:42 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga jalan menuju kualitas ketakwaan yang utuh. Hal itu disampaikan KH. Mas’ud Halimin, Wakil Kepala Bidang Peribadatan dan HBI Masjid Istiqlal, dalam program Syiar Ramadan di 91,2 FM Pro 1 RRI Jakarta, mengangkat tema “Puasa dan Etika Lingkungan: Menahan Diri Demi Kelestarian Bumi.”
Menurut KH. Mas’ud, tujuan dasar puasa adalah membentuk pribadi muttaqin, yakni orang yang bertakwa. Namun, ia menilai pemahaman tentang takwa kerap disederhanakan sebatas ketaatan ritual, seperti rajin salat dan puasa. Padahal, dalam ajaran Islam, takwa memiliki tingkatan dan kualitas yang harus dibangun secara menyeluruh.
Ia menjelaskan, untuk mencapai kualitas takwa terbaik, setidaknya ada empat keharmonisan yang perlu diwujudkan. Pertama, harmonis dengan Allah melalui ibadah seperti salat, puasa, dan zakat. Kedua, harmonis dengan alam semesta dengan tidak merusak lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, serta tidak melakukan tindakan yang memicu bencana.
Ketiga, harmonis dengan sesama manusia melalui sikap saling memberi kebaikan dan menjauhi keburukan. Dan keempat, yang kerap dilupakan, harmonis dengan diri sendiri, mampu berdamai dengan diri, berbuat baik, serta menghindarkan diri dari perilaku buruk.
“Kalau ada orang rajin salat tapi merusak alam, itu belum mencapai kualitas takwa terbaik,” ujarnya. Begitu pula sebaliknya, jika seseorang berbuat baik pada lingkungan tetapi abai terhadap sesama manusia, maka kualitas ketakwaannya belum sempurna.
KH. Mas’ud juga mengingatkan bahwa kekhawatiran tentang potensi manusia merusak bumi telah tergambar sejak awal penciptaan. Ia menyinggung dialog malaikat ketika Allah hendak menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi, di mana muncul pertanyaan tentang kemungkinan manusia berbuat kerusakan.
Dalam konteks itulah puasa menjadi relevan dengan etika lingkungan. Puasa, katanya, mengajarkan konsep imsak atau menahan diri, serta prinsip la tusrifu, yakni tidak berlebih-lebihan. Perilaku merusak alam kerap berawal dari hasrat eksploitasi yang tak terkendali demi keuntungan sebesar-besarnya.
“Puasa melatih kita menahan diri, termasuk dari dorongan untuk mengeksploitasi alam secara berlebihan,” jelasnya. Islam tidak melarang manusia memanfaatkan alam, tetapi mengingatkan agar tidak melampaui batas.
Melalui latihan spiritual selama Ramadan, umat Islam diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah ritual, tetapi juga memperkuat kepedulian terhadap kelestarian bumi. Dengan demikian, puasa menjadi momentum membangun ketakwaan yang menyeluruh, kepada Allah, kepada sesama, kepada alam, dan kepada diri sendiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....