Aktivis lingkungan: Perhatian Wapres pada Satwa Jadi Momentum Perkuat Konservasi

  • 14 Sep 2026 08:36 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Perhatian Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terhadap satwa liar, dinilai dapat menjadi momentum, untuk memperkuat kebijakan konservasi dan perlindungan habitat
  • Gibran melihat langsung kondisi orangutan, yang menghadapi dampak asap akibat kebakaran hutan dan lahan

RRI.CO.ID, Jakarta - Perhatian Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka terhadap satwa liar, saat mengunjungi pusat rehabilitasi orangutan di Kalimantan Tengah, dinilai dapat menjadi momentum, untuk memperkuat kebijakan konservasi dan perlindungan habitat. CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Jamartin Sihite, mengatakan Gibran melihat langsung kondisi orangutan, yang menghadapi dampak asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Wapres juga diperlihatkan bagaimana BOSF menangani orangutan yang sakit, dan membutuhkan nebulizer. Menurut Jamartin, dari kunjungan itu, terlihat adanya perhatian terhadap persoalan satwa liar secara lebih luas.

“Dari apa yang beliau lihat dan dari pengalaman kami, beliau memberikan perhatian yang cukup besar terhadap satwa liar. Tidak hanya orangutan,” ujar Jamartin, Senin, 14 September 2026.

BOSF menjelaskan kepada Wapres, orangutan tidak dapat dipisahkan, dari kondisi ekosistem tempat mereka hidup. Karena itu, dampak yang dialami orangutan akibat kebakaran dan asap, juga perlu dibaca sebagai peringatan, terhadap kondisi satwa liar lain di dalam hutan.

Jamartin berharap perhatian itu dapat berlanjut menjadi langkah konkret. “Saya pikir, dengan pemerintah memberi perhatian terhadap satwa, kami berharap ke depan langkah-langkah konkret yang bisa kita lakukan bersama semakin jelas,” katanya.

Salah satu tindak lanjut yang menurut Jamartin penting adalah, memastikan kawasan hutan yang masih menjadi habitat satwa, tidak kehilangan fungsi ekologisnya akibat perubahan peruntukan. Ia menyoroti keberadaan kawasan yang secara fisik masih berhutan, dan menjadi tempat hidup satwa, tetapi dalam tata ruang masih dapat dikonversi untuk kepentingan lain.

Jamartin berharap, kawasan semacam itu dapat diperiksa secara lebih detail. Dan jika memiliki fungsi penting bagi satwa liar, diarahkan untuk mendapat perlindungan.

“Kalau itu masih menjadi tempat tinggal orangutan, janganlah dikonversi. Walaupun secara umum bisa dikonversi. Ini harus dicek secara mikro dalam peta,” katanya.

Menurutnya, perlindungan habitat juga harus berjalan bersamaan, dengan perbaikan sistem penanganan karhutla. Pemerintah, kata Jamartin, perlu memperkuat peringatan dini, dan menggeser pola penanganan dari reaktif menjadi preventif.

Ia menilai pengalaman menghadapi kebakaran yang berulang, seharusnya dapat menjadi dasar untuk membangun mekanisme yang lebih terukur, berdasarkan data sains dan kondisi cuaca. Jamartin menekankan, upaya konservasi tidak hanya menyangkut orangutan.

“Kami berharap kita sama-sama menjaga areal-areal hutan yang masih bagus, dan menjadi habitat satwa liar. Bukan cuma orangutan, untuk tetap menjadi habitat satwa liar dan orangutan,” katanya.

Menurutnya, perlindungan terhadap kawasan itu merupakan kepentingan bersama. “Karena ini aset negara, ini aset bangsa. Jangan sampai hilang,” kata Jamartin.

Ia pun menilai kondisi perhatian pemerintah saat ini telah menunjukkan perkembangan, tetapi masih memerlukan penguatan. “Yang ada sekarang, menurut kami, sudah lebih baik dari sebelumnya, tetapi harus ditingkatkan,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....