PLN EPI-Kemendes PDT Gandeng BUM Desa Perkuat Pasokan Biomassa untuk PLTU

  • 22 Agt 2026 14:17 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) dan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) untuk mengembangkan rantai pasok biomassa berbasis desa, Kamis, 20 Aguatus 2026. Kerja sama tersebut membuka peluang bagi Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) memanfaatkan residu pertanian dan perkebunan sebagai bahan bakar biomassa bagi pembangkit listrik.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa Kemendes PDT Tabraninmengatakan kerja sama tersebut ditujukan untuk memberdayakan masyarakat desa sekaligus mengoptimalkan sumber daya lokal guna mendukung kebutuhan biomassa PLN EPI.

“Kerja sama ini dimaksudkan untuk memberdayakan masyarakat desa dalam upaya memenuhi kebutuhan sumber energi di PLN EPI. Kita ketahui bahwa 75.262 desa memiliki banyak potensi untuk memenuhi kebutuhan energi yang dibutuhkan oleh PLN EPI dalam bentuk biomassa,” kata Tabrani dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Ia mengatakan pengembangan biomassa dapat dilakukan melalui BUM Desa maupun lembaga ekonomi desa lainnya agar aktivitas ekonomi di desa tidak hanya bertumpu pada produksi komoditas pertanian, tetapi juga menjadi bagian dari rantai pasok energi nasional.

Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan pelibatan masyarakat desa dalam penyediaan biomassa telah berjalan di 52 titik pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di seluruh Indonesia. Menurutnya, PKS dengan Kemendes PDT akan memperluas keterlibatan BUM Desa melalui pola kemitraan yang lebih terstruktur.

“Hampir semua pasokan biomassa yang sudah kita deploy di 52 titik pembangkit tenaga uap kita di seluruh Indonesia itu membuka celah untuk keterlibatan masyarakat desa secara langsung,” ujarnya.

Hokkop menjelaskan BUM Desa tidak hanya berpeluang menjadi pemasok biomassa, tetapi juga dapat bermitra dengan PLN EPI membangun fasilitas produksi maupun hub biomassa untuk memenuhi kebutuhan program co-firing pembangkit PLN.

Menurutnya, Indonesia menghasilkan sekitar 200 juta ton residu agro setiap tahun, dengan sekitar 80 juta ton berpotensi dimanfaatkan sebagai biomassa. Dari jumlah tersebut, sekitar 12 juta ton telah dimanfaatkan sektor industri, 8–10 juta ton diekspor, sementara PLN saat ini menggunakan sekitar 2,5 juta ton biomassa untuk kebutuhan co-firing.

PLN EPI menargetkan pemanfaatan biomassa meningkat menjadi 10 juta ton per tahun pada 2030.“Semakin meningkat pertanian dan industri pertanian di Indonesia, maka biomassa juga akan semakin meningkat. Kepentingan untuk mengganti molekul-molekul fosil ke tubuh pembangkit kita itu juga makin mudah kita dapatkan sampai angka 10 juta ton di tahun 2030,” kata Hokkop.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kemendes PDT Taufik Madjid mengatakan PKS tersebut merupakan tindak lanjut Nota Kesepahaman antara PLN dan Kemendes PDT mengenai pemanfaatan dan pengelolaan tenaga listrik untuk meningkatkan perekonomian dan produktivitas di desa serta daerah tertinggal.

Dalam skema kerja sama tersebut, residu pertanian dan perkebunan seperti sekam padi, bonggol jagung, ampas tebu, tandan kosong kelapa sawit, dan cangkang sawit akan diolah menjadi biomassa sesuai spesifikasi pembangkit listrik. BUM Desa berperan mengoordinasikan masyarakat sekaligus menjadi penghubung antara sumber biomassa di desa dengan kebutuhan pembangkit PLN.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....