Program Desa Berdaya Energi, Gapoktan Gunungkidul Produksi 14 Ton Pupuk Organik

  • 19 Jul 2026 11:28 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Kalurahan Gombang dan Kalurahan Karangasem, Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, berhasil memproduksi sekitar 14 ton pupuk organik melalui Program Desa Berdaya Energi yang diinisiasi PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI).

Produksi tersebut menghasilkan nilai ekonomi sebesar Rp15,4 juta, menambah pendapatan masing-masing kelompok sebesar Rp7,7 juta, sekaligus berpotensi menghemat biaya pembelian pupuk masyarakat hingga Rp75,6 juta.

Keberhasilan tersebut menjadi salah satu wujud penerapan ekonomi sirkular di tingkat desa dengan memanfaatkan limbah peternakan sebagai bahan baku pupuk organik yang mendukung produktivitas pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Program tersebut merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Desa Berdaya Energi yang dikembangkan PLN EPI sejak 2024 di Kalurahan Gombang dan Kalurahan Karangasem. Melalui program tersebut, sektor peternakan, pertanian, pengolahan pupuk organik, pengembangan hijauan pakan, hingga biomassa diintegrasikan dalam satu ekosistem pemberdayaan masyarakat.

Salah satu implementasi program adalah pemanfaatan kotoran kambing Peranakan Etawa (PE) dan sapi sebagai bahan baku pupuk organik. Hingga pertengahan 2026, sekitar 350 kilogram kotoran ternak telah dimanfaatkan sebagai campuran produksi pupuk.

Selama hampir dua tahun pelaksanaan program, total limbah ternak yang dihasilkan diperkirakan mencapai sekitar 23 ton di Kalurahan Gombang dan 15 ton di Kalurahan Karangasem yang dimanfaatkan untuk mendukung sistem pertanian terpadu.

Sekretaris Perusahaan PLN EPI Mamit Setiawan mengatakan pengembangan pupuk organik menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam membangun Desa Berdaya Energi yang mampu menciptakan nilai ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Melalui Program Desa Berdaya Energi, PLN EPI mendorong masyarakat untuk mengubah limbah menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga memperkuat praktik ekonomi sirkular yang menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan,” ujar Mamit, melalui keterangan tertulis, Sabtu, 18 Juli 2026.

Ia menjelaskan, program tersebut dirancang dengan konsep siklus berkelanjutan. Limbah peternakan diolah menjadi pupuk organik, kemudian pupuk digunakan untuk membudidayakan tanaman multifungsi seperti Indigofera, Kaliandra, dan Jatiputih. Selanjutnya, daun tanaman dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak sehingga tercipta sistem yang saling mendukung antara sektor peternakan dan pertanian.

Selain memberikan tambahan pendapatan bagi kelompok tani, pemanfaatan pupuk organik juga mampu menekan biaya produksi. Jika kebutuhan pupuk sebanyak 14 ton dipenuhi menggunakan pupuk urea, masyarakat diperkirakan harus mengeluarkan biaya sekitar Rp91 juta. Dengan menggunakan pupuk organik hasil produksi sendiri, terdapat potensi penghematan hingga sekitar Rp75,6 juta sehingga meningkatkan efisiensi usaha tani.

Ketua Gapoktan Asem Mulya, Kalurahan Karangasem, Sunarto, mengatakan pendampingan PLN EPI telah mengubah cara pandang masyarakat terhadap limbah peternakan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal.

“Sebelumnya kotoran ternak hanya dianggap sebagai limbah. Sekarang kami mampu mengolahnya menjadi pupuk organik yang bermanfaat untuk lahan pertanian dan memiliki nilai jual. Program ini membuat kami semakin memahami pentingnya memanfaatkan potensi yang ada di desa untuk meningkatkan pendapatan kelompok sekaligus menjaga lingkungan,” kata Sunarto.

Ia berharap pendampingan dari PLN EPI dapat terus berlanjut agar kapasitas kelompok semakin meningkat, baik dari sisi produksi, kualitas produk, maupun perluasan pemasaran pupuk organik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....