PLN EPI dan Danantara Siapkan Bandung Jadi Contoh Pengelolaan Sampah
- 16 Sep 2026 21:30 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) bersama PT Danantara Development Management Fund (DDMF) dan sejumlah mitra menyiapkan Kota Bandung sebagai lokasi awal atau percontohan pengembangan sistem pengelolaan sampah terdesentralisasi yang ditargetkan mulai dikembangkan pada Desember 2026 atau Januari 2027.
Komitmen bersama pengembangan Decentralized Waste Management (DWM) ditandatangani di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, sebagai tahap awal untuk mengkaji penerapan model pengelolaan sampah yang mengolah limbah lebih dekat dengan sumbernya sekaligus membuka peluang pemanfaatan hasil pengolahan sebagai sumber energi.
Selain PLN EPI dan DDMF, penandatanganan juga melibatkan PT Rekayasa Industri, PT Pertamina Power Indonesia, serta Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, dan disaksikan jajaran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
Managing Director Development Investment DDMF, M. Rachmat Kaimuddin, mengatakan Bandung dipilih sebagai salah satu lokasi awal untuk menguji implementasi model tersebut sebelum dikembangkan ke daerah lain.
“Pengelolaan sampah tidak cukup dijawab melalui pembahasan dan kajian, tetapi harus segera dibuktikan melalui implementasi di lapangan,” kata Rachmat, melalui keterangan tertulis, Rabu, 16 September 2026.
Dalam tahap awal, para pihak akan melakukan identifikasi persoalan dan kebutuhan pengelolaan sampah di Bandung, mengkaji alternatif teknologi, serta menilai aspek teknis, lingkungan, sosial, ekonomi, komersial, finansial, hukum, kelembagaan, dan tata kelola.
Kajian juga mencakup penentuan lokasi potensial dengan mempertimbangkan kesiapan lahan, akses, utilitas, tata ruang, hingga kondisi lingkungan. Dari sisi pasokan, penilaian dilakukan terhadap sumber, volume, karakteristik, kontinuitas, dan mekanisme penyediaan sampah sebagai bahan baku pengolahan.
Chief Technology Officer BPI Danantara, Sigit Puji Santosa, menjelaskan DWM dirancang sebagai pelengkap sistem waste-to-energy (WTE) berskala besar, bukan penggantinya. Menurut dia, pendekatan terdesentralisasi dapat diterapkan pada wilayah yang belum memiliki skala ekonomi untuk membangun fasilitas WTE besar, sekaligus mengurangi kebutuhan pengangkutan sampah jarak jauh.
Untuk tahap awal di Bandung, pengembangan direncanakan melalui empat Sentra Waste Management (SWK) dengan kapasitas sekitar 300 ton sampah per sentra, sehingga total kapasitasnya diperkirakan mencapai 1.200 ton sampah.
“Empat SWK bisa mengolah 1.200 ton. Ini yang akan kita jalankan. Kami menargetkan satu hingga dua lokasi dapat mulai dikembangkan pada akhir 2026 atau awal 2027 sebelum diperluas menjadi empat hingga lima lokasi,” ujarnya.
Dalam pengembangan DWM, PLN EPI berperan sebagai calon pembeli atau penyerap produk hasil pengolahan sampah. Perusahaan akan menyampaikan kebutuhan dan spesifikasi produk serta menelaah aspek teknis, kualitas, kuantitas, kontinuitas pasokan, logistik, dan potensi pemanfaatannya dalam rantai pasok energi primer.
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan pengembangan DWM berkaitan dengan upaya memperluas pemanfaatan energi berbasis limbah melalui program cofiring di pembangkit listrik.
“Di PLN EPI, kita melakukan substitusi bahan-bahan fosil menjadi bahan-bahan berbasis hayati untuk kelangsungan energi kita melalui cofiring,” kata Hokkop.
Ia mengungkapkan PLN telah memanfaatkan sekitar 2,5 juta ton biomassa dalam satu tahun terakhir, dengan sekitar 99 persen berasal dari limbah agro. Sementara itu, potensi limbah agro di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 80 juta ton per tahun.
Menurut Hokkop, pengembangan ekosistem biomassa juga melibatkan sekitar 180 kontrak aktif dalam rantai pasok biomassa, dengan sekitar 60 persen di antaranya melibatkan pelaku usaha muda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....