Perkuat Kolaborasi Penanggulangan Bencana, 28 Negara Ikuti IISAR 2026
- 09 Jul 2026 17:31 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Sebanyak 28 negara mengikuti event Indonesia International Search and Rescue Exhibition, Forum, and Challenge 2026 (IISAR 2026) dalam upaya memperkuat kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi ancaman bencana yang semakin kompleks.
Event tersebut digelar di Gedung C Hall 9A, Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang, pada 9 Juli hingga 12 Juli 2026.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno mengatakan, penyelenggaraan IISAR 2026 menjadi momen penting bagi Indonesia dalam memperkuat kemampuan menghadapi berbagai risiko bencana.
“Pemerintah menyambut gembira adanya acara ini karena kita harus selalu siaga menghadapi ketidakpastian yang semakin tinggi,” kata Pratikno usai membuka IISAR 2026, pada Kamis, 9 Juli 2026.
“Selain bencana, kita juga menghadapi risiko kecelakaan. Karena itu, pencarian dan pertolongan menjadi sesuatu yang sangat krusial karena setiap nyawa harus diselamatkan,” sambungnya.
Menurut Pratikno, tantangan kebencanaan saat ini tidak lagi dihadapi dengan metode konvensional.
Ia menilai pemanfaatan teknologi terbaru harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) serta penguatan kelembagaan agar respons terhadap kondisi darurat semakin cepat dan efektif.
“Lebih dari itu, kemampuan SDM dan empati untuk menyelamatkan nyawa juga sangat penting. Dari waktu ke waktu kita harus terus meningkatkan kemampuan, bukan hanya personel dan teknologi, tetapi juga kelembagaan,” ujarnya.

Terlebih dari itu, Pratikno juga mengingatkan bahwa penanganan operasi SAR tidak dapat hanya dibebankan kepada Basarnas. Menurutnya, keberhasilan penyelamatan korban bergantung pada sinergi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari TNI-Polri hingga relawan masyarakat.
“Masalah SAR bukan hanya tanggung jawab Basarnas. Semua pihak harus bergerak cepat karena dalam penyelamatan, setiap menit sangat berharga untuk menyelamatkan nyawa,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Basarnas RI, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menyampaikan, IISAR 2026 merupakan penyelenggara pertama yang dilakukan berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 29 Tahum 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan.
“IISAR merupakan event yang menyelenggarakan challenge, forum, dan exhibition yang melibatkan organisasi internasional di bidang search and rescue maupun penanganan kedaruratan,” kata Syafii.
Syafii mengatakan, dalam event tersebut sebanyak 28 negara terlibat dalam penyelenggaraan IISAR 2026.
Negara-negara tersebut, kata dia, berpartisipasi dalam berbagai agenda, mulai dari forum internasional, pameran teknologi hingga kompetisi SAR, meski tidak seluruhnya hadir pada waktu yang bersamaan.
“Forum ini menjadi sarana mendapatkan informasi terbaru mengenai perkembangan operasi SAR internasional. Untuk operasi kecelakaan pesawat kita mengacu pada pedoman ICAO, operasi maritim mengacu pada IMO, sedangkan penanganan bencana mengikuti standar INSARAG,” jelasnya.
Syafii menilai, penyelenggaraan pameran tersebut juga menjadi ajang memperkenalkan berbagai teknologi terbaru untuk mendukung operasi pencairan dan pertolongan, baik di darat, udara, laut, maupun bawah air.
“Sebanyak 57 booth dari berbagai mitra dan perusahaan menampilkan inovasi peralatan SAR terkini,” katanya.
Syafii menambahkan, Basarnas kini tidak lagi hanya mengedepankan konsep kolaborasi, melainkan membangun sinergi antarlembaga agar seluruh sumber daya, personel, dan peralatan yang dimiliki masing-masing instansi dapat saling melengkapi saat terjadi keadaan darurat.
“Kalau dulu kita mengenal istilah kolaborasi, sekarang kita mendeklarasikan sinergi. Artinya, kemampuan dan sarana yang dimiliki Basarnas maupun kementerian dan lembaga lain bisa saling melengkapi sesuai kebutuhan operasi,” ujarnya.
Kesempatan yang sama, Founder IISAR 2026, Candra Tri Saktiyanto mengatakan, penyelenggaraan IISAR dilatarbelakangi pentingnya membangun ekosistem kegawatdaruratan yang lebih kuat.
“Isu kegawatdaruratan sangat penting di mana pun kita berada. Dari rumah, gedung, hingga ruang publik semuanya berkaitan dengan keselamatan,” katanya.
Menurutnya, meski industri SAR masih tergolong sebagai pasar khusus (niche market), peluang pengembangannya sangat besar karena berkaitan erat dengan kebutuhan keselamatan di berbagai sektor kehidupan.
“Karena itu, industri SAR memiliki pipeline yang sangat besar untuk terus dikembangkan,” tutup Candra.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....